LANGIT7.ID-, Jakarta - - Para ahli menjelaskan bagaimana
FOMO (Fear of Missing Out), bukti sosial, dan budaya performa telah mengubah makanan ataupun camilan biasa menjadi pengalaman "berharga" yang harus didapat meski ikut dalam antrean panjang, dan ini terjadi secara global.
Di seluruh dunia, para pelancong kini rela menunggu satu jam atau lebih untuk mendapatkan variasi makanan sehari-hari yang sedang tren.
Acara televisi Saturday Night Live, bahkan membuat parodi tentang fenomena ini. Namun, para psikolog mengatakan bahwa antrean tersebut sebenarnya bukan tentang makanan sama sekali, melainkan antrean itu mengungkapkan bagaimana media sosial, status, dan performa membentuk kembali perjalanan modern.
Salah satu contoh, Thomas A P van Leeuwen, memiliki pemandangan yang memukau dari apartemennya di Amsterdam. Jalan tempat tinggalnya, Keizersgracht, dipenuhi dengan rumah-rumah kanal megah abad ke-17 namun kini apa yang dilihat akademisi dan penulis ini setiap hari sangat modern.
Baca juga: Hati-Hati Diskon Akhir Tahun Picu Perilaku FOMO, Bikin Kantong JebolHari demi hari, wisatawan membentuk antrean panjang di jembatan, memegang kerucut kentang goreng di FabelFriet seharga kurang lebih Rp108.000, dengan latar belakang atap pelana untuk unggahan TikTok atau Instagram.
FabelFriet adalah tempat terbaik untuk mendapatkan kentang goreng di Amsterdam. Merek ini membuka toko pertamanya pada tahun 2020 dan menjadi viral di TikTok pada tahun 2023; sejak saat itu, lokasi aslinya di lingkungan De Negen Straatjes (Sembilan Jalan) selalu dipenuhi antrean panjang.
Papan petunjuk dan staf mengatur kerumunan, mengarahkan para pencari kentang goreng menyusuri jembatan dan trotoar. Beberapa meter jauhnya, toko sandwich Korea Chun memiliki antrean serupa, sementara kue-kue yang dikemas cantik di Van Stapele Koekmakerij telah menjadi tempat ziarah viral lainnya di Amsterdam.
Hal serupa terjadi di Indonesia, ketika sebuah makanan telah diunggah di media sosial dan kemudian banyak orang menyaksikannya hingga menjadi viral, maka tak butuh waktu lama orang-orang akan berbondong-bondong menuju ke sana untuk membeli. Selanjutnya, mengunggah foto makanan ataupun antreannya di media sosial.
Mengapa Antrean Memikat KitaMuncul pertanyaan, mengapa antrean begitu memikat? Para ahli mengatakan, antrean tidak hanya menandakan popularitas, tetapi juga memicu isyarat psikologis yang kuat.
Rasa takut ketinggalan (FOMO) adalah penjelasan terkuat mengapa orang menunggu makanan yang hanya pernah mereka dengar, kata Rachel S Herz, Asisten Profesor Adjunkt bidang Psikiatri dan Perilaku Manusia di Brown University Alpert Medical School dan penulis buku Why You Eat What You Eat.
"Untuk pengalaman positif, ketika orang melihat orang lain mengantre untuk sesuatu, hal itu membuat 'hal' yang mereka antrekan tampak lebih menarik dan memicu FOMO," kata Herz, dikutip dari BBC, Senin (29/12/2025).
Baca juga: Fomo Olahraga Lari Membuat Jasa Joki Strava ViralCathrine Jansson-Boyd, Profesor Psikologi konsumen di Universitas Anglia Ruskin, menjelaskan mekanisme tersebut sebagai "bukti validasi sosial".
"Jika Anda terus melihat orang mengantre berulang kali, pengulangan tersebut dapat membuat perilaku terasa normal, bahkan diharapkan, dan itu dapat secara halus mengubah cara Anda merespons. Anda sedikit takut ketinggalan," katanya.
Kekuatan media sosial dalam kehidupan sehari-hari jelas menjadi pendukung Utama atas fenomena ini. Kebanyakan orang melihat makanan tersebut secara
online, bukan di jalan.
"Hal itu memang mengubah kita karena kita sangat sosial dan kita ingin semua orang melihat apa yang kita lakukan dan ingin melakukan apa yang dilakukan orang lain."
Namun, FOMO saja tidak menjelaskan mengapa orang sekarang merekam diri mereka sendiri saat mengantre, atau mengapa makanan menjadi latar belakang dan bukan inti permasalahannya. Psikologi antrean semakin terkait dengan sesuatu yang lebih baru, dan jauh lebih terlihat.
"Namun, keramaian jarang membuat orang gentar. Melihat orang lain mengantre "memberi Anda keyakinan bahwa Anda melakukan hal yang benar," kata Stefan Gössling, seorang profesor di Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Linnaeus.
Bahkan ketika para pelancong tahu bahwa antrean makanan viral di tempat mereka berlibur dipicu oleh sensasi, mereka tetap bergabung meski sudah terbukti bahwa bagi banyak orang, menunggu dengan mengantre panjang telah menjadi sama bermakna dengan menikmati makanan.
(lsi)