LANGIT7.ID - , Jakarta - Berbicara fenomena
FOMO (
fear of missing out) yang dialami oleh generasi muda saat ini tentu tidak akan ada habisnya. Kecenderungan untuk selalu update informasi terbaru menjadi sebuah keharusan.
Melihat fenomena ini, pengamat sosial Puji Qomariyah mengatakan fenomena fomo yang dialami anak muda saat ini dampaknya banyak dan berbahaya.
Baca juga: 4 Tips Terhindar dari FOMO, Nomor 3 Harus Mulai Dipaksakan"Fenomena fomo yang dialami oleh remaja menjadi faktor yang luar biasa terhadap perkembangan mereka. Jika dibiarkan dampaknya akan sangat banyak dan berbahaya," ujar Puji kepada Langit7, Kamis (19/5/2022).
Meskipun begitu, Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) ini mengakui dari sisi adaptasi terhadap perkembangan sosial, sindrom fomo sangat bagus.
"Dari sisi adaptasi mereka terhadap perkembangan dinamika sosial itu bagus, tetapi di sisi lain ketika ia mengikuti sesuatu yang tidak baik, ini akan menyusahkan," ujarnya.
"Siapa yang disusahkan? Lebih banyak dirinya sendiri dan keluarganya. Misalnya ia membutuhkan
handphone dengan fitur lebih canggih dan kamera kualitas luar biasa, dan belum memiliki penghasilan. Tentunya yang disusahkan
orang tua. Belum lagi jika orang tuanya tidak mampu," lanjut dia.
Nah, kata dia hal ini pasti akan menimbulkan konflik antara anak dan orang tua.
"Anak menginginkan sesuatu yang lebih, sementara orang tua tidak mampu. Konflik akan terjadi. Disfungsi di dalam keluarga akan terjadi. Dampaknya akan sangat banyak dan berbahaya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Puji meyebut gaya hidup seseorang merupakan imitasi dari gaya orang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang dilakukan semua tergantung dari orang lain.
"Jadi, apa yang kita lakukan itu, kalau dari perspektif sosiologi 50 persen dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan itu terdiri dari grup teman-teman sebaya kita. Mereka sangat mempengaruhi," tuturnya.
"Apalagi bagi anak-anak yang dari segi kematangan pemikiran belum bisa menentukan sendiri siapa dirinya. Sehingga ia sangat terbawa kondisi lingkungan grupnya," lanjut Puji.
Ketika ia tidak mengikuti tren
komunitas tersebut seperti gaya dan perilakunya, tentu ia akan di
-bully atau akan mendapatkan perilaku yang tidak mengenakkan.
Baca juga: Arti FOMO, Dikenal Sejak 2013 dan Kini Jadi Bahasa Anak GaulKemudian, yang terjadi ketika anak muda itu mendapatkan perilaku
bullying dari teman-teman atau dari lingkungannya, bahayanya mereka bisa bunuh diri dan ini banyak terjadi.
"Seperti kita lihat, banyak yang di-
bully di media sosial itu kerentanan mereka adalah bunuh diri," pungkasnya.
(est)