LANGIT7.ID, Jakarta - Istilah
Fomo atau Fear of Missing Out ternyata memiliki dampak buruk bagi generasi muda. Jika dibiarkan, sindrom ini akan merusak kemampuan mengambil keputusan.
Dalam buku "
Fear of Missing Out" karya Patrick J. McGinnis, Fomo semakin mudah merebak luas karena adanya media sosial. Hal ini dikarenakan banyak orang yang menggunakan media sosial untuk flexing atau pamer.
Banyak hal sering dipamerkan orang di media sosialnya, mulai dari jalan-jalan, beli barang baru, bertemu sosok penting atau terkenal, dan lainnya. Dari sinilah muncul istilah-istilah gaul yang paling sering diucapkan anak Jaksel, seperti travelling, healing, flexing, staycation, barang branded, dan lainnya.
Baca Juga: 4 Tips Terhindar dari FOMO, Nomor 3 Harus Mulai DipaksakanJika tidak diwaspadai, hal ini akan menyebabkan seseorang mulai berlomba-lomba mengejar sesuatu yang sedang tren, baik itu membeli barang ataupun jalan-jalan ke tempat wisata.
Patrick dalam bukunya mengungkapkan, media sosial menjadi penyebab utama menyebarnya Fomo. Menurutnya, hidup seseorang akan lebih baik jika tidak menggunakan media sosial.
Sebab, berselancar di media sosial secara tidak langsung menyebabkan seseorang sibuk memikirkan hidup orang lain. Namun dia juga mengungkapkan, tidak menggunakan media sosial bukan berarti menutup peluang untuk tidak Fomo.
Sebab, kecemasan seseorang akan muncul ketika dia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, baik secara langsung maupun lewat media sosial.
Atasi Fomo dengan KetegasanFomo pada akhirnya menyebabkan seseorang menjadi Fobo (Fear of Better Option). Artinya mereka takut mengambil keputusan yang tepat, karena khawatir masih ada pilihan yang lebih baik.
Patrick yang juga sebagai host di podcast Fomo Sapiens ini menyebutkan dalam bukunya terkait strategi mengatasi Fomo dan Fobo, yakni dengan selalu bertindak.
Seseorang akan lebih ketika dia bertindak daripada tidak bertindak sama sekali. Artinya, jangan ragu dan takut salah dalam mengambil keputusan.
Sebab, dalam kesempurnaan seseorang tetap saja memiliki potensi salah dan menimbulkan masalah. Untuk itu, menjalankan sesuatu dari sebuah keputusan akan lebih baik ketimbang tidak mendapatkan apa-apa.
Selain itu, keputusan yang diambil juga perlu dipertimbangkan menyesuaikan dengan diri sendiri. Artinya, kebutuhan diri seseorang yang berbeda-beda juga akan mempengaruhi pilihan yang berbeda pula.
Untuk itu, berhenti memikirkan apa yang dipilih dan dilakukan orang lain. Tapi tentukan dengan ketegasan, apa yang dibutuhkan diri sendiri.
(bal)