Bhima Yudhistira Ungkap Sebab PHK Massal di Perusahaan Startup Digital
Muhajirin
Selasa, 31 Mei 2022 - 15:33 WIB
Bhima Yudhistira (Dok Pribadi)
Bisnis rintisan berbasis digital ataustartup di Indonesia mulai mengalami penurunan. Belum lama ini, LinkAja dan Zenius, dua startup digital di Tanah Air melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan.
Tren pemutusan hubungan kerja massal juga dilakukan beberapastartup lain seperti Fabello, Tanihub, Uang Teman, Gojek, dan Grab. Bahkan sebelumnya, beberapa startup Indonesia gulung tikar antara lain Airy Rooms, Stoqo, Qlapa, dan Sorabel.
Menanggapi fenomena ini, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) , Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut ada 5 penyebab utama PHK startup digital. Pertama, produk yang kalah bersaing, sehingga kehilangan market share secara signifikan.
Baca Juga: Banyak Startup Digital Alami Paceklik, Ada Apa
Kedua, kesulitan mencari pendanaan baru akibat investor lebih selektif memilih startup. Ketiga, faktor makro ekonomi secara global penuh ketidakpastian sehingga investor menghindari pembelian saham startup yang persepsi resikonya tinggi.
"Terlebih ada kenaikan inflasi dan suku bunga di berbagai negara," kata Bhima kepada LANGIT7.ID, Selasa (30/5/2022).
Tren pemutusan hubungan kerja massal juga dilakukan beberapastartup lain seperti Fabello, Tanihub, Uang Teman, Gojek, dan Grab. Bahkan sebelumnya, beberapa startup Indonesia gulung tikar antara lain Airy Rooms, Stoqo, Qlapa, dan Sorabel.
Menanggapi fenomena ini, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) , Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut ada 5 penyebab utama PHK startup digital. Pertama, produk yang kalah bersaing, sehingga kehilangan market share secara signifikan.
Baca Juga: Banyak Startup Digital Alami Paceklik, Ada Apa
Kedua, kesulitan mencari pendanaan baru akibat investor lebih selektif memilih startup. Ketiga, faktor makro ekonomi secara global penuh ketidakpastian sehingga investor menghindari pembelian saham startup yang persepsi resikonya tinggi.
"Terlebih ada kenaikan inflasi dan suku bunga di berbagai negara," kata Bhima kepada LANGIT7.ID, Selasa (30/5/2022).