Inflasi AS Melambung Tinggi, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia
Garry Talentedo Kesawa
Sabtu, 16 Juli 2022 - 21:37 WIB
Ilustrasi seseorang sedang menghitung uang. (Foto: Langit7.id/iStock)
Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 2022 tercatat melonjak mencapai 9,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Lonjakan ini diperkirakan berdampak pada ekonomi Indonesia, salah satunya pelemahan terhadap Rupiah.
Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi mengatakan obligasi di pasar dalam negeri masih menguat pada Rabu (13/7) lalu meskipun saham melemah. Dia memperkirakan pasar Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin di bulan ini.
Baca Juga:Inflasi AS Melonjak hingga 9,1 Persen, Ribuan Keluarga Antre Bantuan Makanan
"Jika BI tidak mengambil respons yang cepat, nilai tukar rupiah akan berlanjut melemah. Ini berpotensi mencapai level Rp15.500 per dolar AS," kata Lionel dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (16/7/2022).
Lionel Priyadi menuturkan lonjakan inflasi yang terjadi di AS menaikkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, dari sebelumnya 75 basis poin menjadi 100 basis poin. "Pasar juga memperkirakan puncak siklus kenaikan suku bunga The Fed akan terjadi November 2022 dari sebelumnya Februari 2023, berdasarkan Fedwatch CME Group," ujar Lionel.
Melihat perkembangan ekonomi tersebut, resesi di AS diperkirakan berlangsung lebih cepat, yaitu pada kuartal II/2022. Selain itu, imbas hasil US Treasury 10 tahun hanya turun tipis hampir 4 basis poin menjadi 2,93 persen.
Baca Juga:Inflasi Mengancam Indonesia, Ekonom Minta Pemerintah Edukasi Masyarakat
Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi mengatakan obligasi di pasar dalam negeri masih menguat pada Rabu (13/7) lalu meskipun saham melemah. Dia memperkirakan pasar Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin di bulan ini.
Baca Juga:Inflasi AS Melonjak hingga 9,1 Persen, Ribuan Keluarga Antre Bantuan Makanan
"Jika BI tidak mengambil respons yang cepat, nilai tukar rupiah akan berlanjut melemah. Ini berpotensi mencapai level Rp15.500 per dolar AS," kata Lionel dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (16/7/2022).
Lionel Priyadi menuturkan lonjakan inflasi yang terjadi di AS menaikkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, dari sebelumnya 75 basis poin menjadi 100 basis poin. "Pasar juga memperkirakan puncak siklus kenaikan suku bunga The Fed akan terjadi November 2022 dari sebelumnya Februari 2023, berdasarkan Fedwatch CME Group," ujar Lionel.
Melihat perkembangan ekonomi tersebut, resesi di AS diperkirakan berlangsung lebih cepat, yaitu pada kuartal II/2022. Selain itu, imbas hasil US Treasury 10 tahun hanya turun tipis hampir 4 basis poin menjadi 2,93 persen.
Baca Juga:Inflasi Mengancam Indonesia, Ekonom Minta Pemerintah Edukasi Masyarakat