Kisah Gus Baha Tolak Bantuan Miliaran Rupiah untuk Pembangunan Pesantren
Muhajirin
Jum'at, 29 Juli 2022 - 14:00 WIB
Pengasuh Ponpes LP3IA Narukan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha (foto: NU Online)
Pengasuh Ponpes Tahfidz Qur'an LP3IA Narukan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin atau yang akrab disapa Gus Baha, pernah menolak bantuan untuk pesantren meski nilainya begitu besar.
Pernah suatu ketika Gus Baha mendapat tawaran bantuan Uang miliaran rupiah oleh seorang donatur dari Arab Saudi. Donatur yang berprofesi sebagai pengusaha itu menyodorkan Uang untuk pembangunan pesantren. Tapi, Gus Baha menolak.
“Gus, kalau panjenengan mau membebaskan pesantren, maka saya sumbangkan uang saya ini untuk panjenengan,” kata Gus Baha menirukan ucapan donator itu, dikutip kanal Putu Santri, Jumat (29/7/2022).
Baca Juga: Alasan Gus Baha Selalu Pakai Bahasa Jawa Saat Berdakwah
Gus Baha punya alasan kuat menolak bantuan tersebut. Donatur tersebut ingin membantu pengembangan fasilitas pesantren. Dia tak menginginkan itu, sebab, tugas seorang ulama atau tokoh agama adalah mengajak kepada Allah Ta’ala.
“Kalau saya terima dan fasilitas pondok yang bagus, takutnya saya malah mengajak orang kepada fasilitas, bukan kepada Allah. Pikiran saya, buat pondok itu agar orang senang Tuhan. Kalau fasilitasnya banyak, orang suka fasilitas. Bagi saya ini musibah,” ucapnya.
Pernah suatu ketika Gus Baha mendapat tawaran bantuan Uang miliaran rupiah oleh seorang donatur dari Arab Saudi. Donatur yang berprofesi sebagai pengusaha itu menyodorkan Uang untuk pembangunan pesantren. Tapi, Gus Baha menolak.
“Gus, kalau panjenengan mau membebaskan pesantren, maka saya sumbangkan uang saya ini untuk panjenengan,” kata Gus Baha menirukan ucapan donator itu, dikutip kanal Putu Santri, Jumat (29/7/2022).
Baca Juga: Alasan Gus Baha Selalu Pakai Bahasa Jawa Saat Berdakwah
Gus Baha punya alasan kuat menolak bantuan tersebut. Donatur tersebut ingin membantu pengembangan fasilitas pesantren. Dia tak menginginkan itu, sebab, tugas seorang ulama atau tokoh agama adalah mengajak kepada Allah Ta’ala.
“Kalau saya terima dan fasilitas pondok yang bagus, takutnya saya malah mengajak orang kepada fasilitas, bukan kepada Allah. Pikiran saya, buat pondok itu agar orang senang Tuhan. Kalau fasilitasnya banyak, orang suka fasilitas. Bagi saya ini musibah,” ucapnya.