LANGIT7.ID, Jakarta - Dakwah dari KH Ahmad Baha'uddin Nursalim alias
Gus Baha begitu menarik dan diterima banyak kalangan. Namun sayangnya, tak sedikit yang kesulitan mencerna dakwah beliau karena selalu disampaikan dalam bahasa Jawa.
Ternyata
Gus Baha memiliki alasan menarik di baliknya. Hal itu merupakan salah satu cara Gus Baha melestarikan bahasa Jawa.
Dia mengaku terinspirasi dari orang-orang Banjar dan Madura. Orang Madura, kata
Gus Baha, di manapun mereka berada pasti menggunakan bahasa Madura. Begitu pun dengan orang Banjar yang sangat bangga dengan bahasa mereka sendiri.
Baca Juga: Gus Baha Ungkap Bangsa Indonesia adalah Keturunan Nabi Nuh“Orang Banjar itu lebih hebat lagi, orang Banjar itu di mana-mana pun pakai bahasa Banjar. Sama seperti orang Madura, di mana-mana pakai bahasa Madura,” kata
Gus Baha di kanal Santri Gayeng, dikutip Rabu (20/7/2022).
Madura dan Banjar memiliki tokoh ulama yang sama-sama dibanggakan. Dalam soal agama, orang Madura berguru kepada Syaikhona Kholil. Orang Banjar punya Syekh Arsyad al-Banjari.
Baca Juga: Memahami Madura, Suku yang Tak Terpisahkan dari Islam
“Kenapa orang Banjar saya bilang lebih Hebat, karena Madura kan induknya Syaikhona Kholil. Banjar punya induknya bernama Syekh Arsyad al-Banjari. Syaikhona Kholil itu ngaji sama Syekh Nawawi al-Bantani. Sementara, Syekh Nawawi al-Bantani masih ngaji kepada Syekh Arsyad al-Banjari,” kata Gus Baha.
Uniknya, orang Banjar selalu menggunakan bahasa Banjar saat berinteraksi dan berdakwah di manapun berada. Itu yang menginspirasi Gus Baha sehingga sering menggunakan bahasa Jawa saat berceramah.
Baca Juga: Gus Baha: Pendakwah Harus Buat Masyarakat Senang dalam Belajar AgamaPerkara itu ternyata mendapat perhatian dari banyak masyarakat muslim Indonesia yang tak mengerti bahasa Jawa. Gus Baha mengaku sering mendapat pesan singkat dari orang Sunda, Sumatera, hingga Sulawesi untuk menggunakan bahasa Indonesia saat berceramah.
“Padahal, saya sebetulnya mau fanatik seperti orang Banjar. Saya sering dapat SMS begitu, 'Gus tolong kalau ngaji pakai bahasa Indonesia. Saya sama sekali tidak paham dengan bahasa Jawa',” tutur Gus Baha.
(jqf)