LANGIT7.ID, Jakarta - KH Ahmad Bahaudin Nursalim atau Gus Baha merupakan salah satu dai yang senang berkelakar dalam majelisnya. Menurut dia, Islam adalah agama menggembirakan dan harus didakwahkan dengan gembira pula.
Sikap yang diambil Gus Baha meneladani dari ayahnya, KH Nur Salim dan gurunya, KH Maimoen Zubair. Dari orang tuanya, Gus Baha mengerti bahwa dengan kegembiraan, maka masyarakat akan merasa nyaman belajar agama.
“Saya itu ngaji di mana-mana suka guyon, karena Bapak suka guyon, Mbah Moen suka guyon. Alasan Bapak sederhana, orang sudah nyari hiburan dengan maksiat sehingga agama harus membawa keceriaan sosial, keceriaan hati,” kata Gus Baha dalam salah satu ceramahnya, dikutip Selasa (17/5/2022).
Baca Juga: Gus Baha: Bersyukurlah kalau Punya Istri Suka Ngomel-NgomelSebagaimana dalam surat Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Jadi, kata Gus Baha, pendakwah itu harus membuat masyarakat merasa senang dengan kebaikan. Pendakwah mengedepankan sikap lemah lembut dan senantiasa menghadirkan keceriaan dalam majelisnya.
“Makanya Nabi (Muhammad) marah kalau satu kebaikan menjadi problem,” kata Gus Baha.
Gus Baha mencontohkan satu kisah, yakni saat Muadz bin Jabbal menjadi imam shalat dengan bacaan yang panjang. Dalam barisan shalat, terdapat salah satu jamaah yang keberatan dan memutuskan berpisah dari jamaah shalat.
Baca Juga: Hadapi Vietnam U-23 di Semifinal, Pelatih Malaysia Menyesal Tak Bertemu IndonesiaKejadian itu membuat Muadz marah lalu mengadukan ke Nabi. Namun, bukannya mengafrimasi keputusan Muadz, Rasulullah malah menegurnya.
“Padahal ini baca Al-Qur'an panjang harusnya kan ibadah, tapi karena jadi problem sosial orang menjadi tidak nyaman shalat berjamaah,” kata Gus Baha.
Kisah tersebut terdapat dalam hadits Riwayat Imam Muslim, yakni:
صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى »
“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim Nomor 465).
Baca Juga: Asupan Buah Mangga dapat Mencegah Kerutan pada Wajah(zhd)