UAS: Demokrasi Seharusnya Membuka Kebebasan Berpikir
Fajar adhitya
Rabu, 24 Agustus 2022 - 05:05 WIB
Ustadz Abdul Somad (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Ustadz Abdul Somad (UAS) mengkritik berbagai upaya pencekalan akibat perbedaan pemikiran atau pandangan. Dia sendiri sering mengalami berbagai upaya pelarangan ceramah di sejumlah tempat, baik masjid maupun universitas.
Menurut UAS, Indonesia sebagai negara penganut sistem demokrasi seharusnya mampu menjaga dan melindungi kebebasan berpikir dan berpendapat. Apalagi, Islam sebagai agama mayoritas penduduk mendorong umatnya untuk menggunakan akal.
Baca Juga:UAS: PT 20 Persen Monarki Berkedok Demokrasi
"Dengan berdemokrasi sesugguhnya kita dibebaskan berpikir. Bertarung itu lewat pertarungan argumentasi," kata UAS alam dialog nasional bertajuk Islam Adalah Elemen Utama Kekuatan NKRI, dikutip dari kanal YouTube Ustadz Abdul Somad Official, Selasa (23/8/2022).
UAS juga menyinggung isu politik identitas menjelang Pemilu 2024. Menurutnya, umat Islam berhak mengutarakan aspirasi dan pikiran politiknya dalam gelanggang demokrasi lima tahunan itu.
"Identitas Islam adalah akal, (di mana) ketika Allah SWT bertanya (dalam Al-Qur'an), ‘Kenapa kamu tidak menggunakan akal, kenapa tidak berpikir, kenapa tidak mengingat-ingat'," urai UAS.
UAS menjelaskan, dalam Islam ada neraka khusus yang disediakan bagi mereka yang tidak menggunakan akalnya. Neraka tersebut bernama Sa’ir.
Menurut UAS, Indonesia sebagai negara penganut sistem demokrasi seharusnya mampu menjaga dan melindungi kebebasan berpikir dan berpendapat. Apalagi, Islam sebagai agama mayoritas penduduk mendorong umatnya untuk menggunakan akal.
Baca Juga:UAS: PT 20 Persen Monarki Berkedok Demokrasi
"Dengan berdemokrasi sesugguhnya kita dibebaskan berpikir. Bertarung itu lewat pertarungan argumentasi," kata UAS alam dialog nasional bertajuk Islam Adalah Elemen Utama Kekuatan NKRI, dikutip dari kanal YouTube Ustadz Abdul Somad Official, Selasa (23/8/2022).
UAS juga menyinggung isu politik identitas menjelang Pemilu 2024. Menurutnya, umat Islam berhak mengutarakan aspirasi dan pikiran politiknya dalam gelanggang demokrasi lima tahunan itu.
"Identitas Islam adalah akal, (di mana) ketika Allah SWT bertanya (dalam Al-Qur'an), ‘Kenapa kamu tidak menggunakan akal, kenapa tidak berpikir, kenapa tidak mengingat-ingat'," urai UAS.
UAS menjelaskan, dalam Islam ada neraka khusus yang disediakan bagi mereka yang tidak menggunakan akalnya. Neraka tersebut bernama Sa’ir.