Hikmah Rahmani: Ke Mana Hijrahmu?
Redaksi
Rabu, 11 Agustus 2021 - 20:09 WIB
Ilustrasi bulan Muharram. Foto: Langit7.id/ iStock
Dalam al-Qur'an, hijrah berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam makna lain, hijrah juga dapat diartikan meninggalkan sesuatu yang tercela kepada sesuatu yang terpuji.
Oleh: A Rahman Habsyi (Sahabat Iman)
Secara terminologi, kata hiijrah berarti proses peralihan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Hijrah juga merupakan bukti keimanan seorang hamba, dengan harapan dengan kendaraan hijrah ia akan mendapatkan curahan Rahmat Ilahi.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS al-Baqarah: 218)
Dari sini menjadi jelas bahwa tidak mungkin ada hijrah tanpa keimanan. Iman sebagai wujud bahwa orang tersebut menggunakan akal dan hati secara harmonis dan ikhlas.
Memutuskan untuk hijrah dan kembali menjalankan perintah agama, memang bukanlah hal yang mudah. Ada perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk melakukannya. Meninggalkan masa lalu memang bukan perkara yang mudah. Selain karena telah menjadi kebiasaan, butuh tekad yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Belum lagi dengan berbagai risiko yang didapatkan, seperti mendapatkan kometar negatif bahkan cibiran, kehilangan teman lama, tercerabut dari komunitas dan yang lainnya.
Hijrah mengajarkan agar manusia jangan sebatas berubah pada tataran “bungkus diri” (packaging) tapi pada tataran “isi diri” yang memunculkan keshalihan sosial yang nyata. Kenyataan keshalihan sosial bukan untuk dipublikasi (pamer) bagi popularitas sesaat, tapi harus menjadi tradisi yang dilakukan setiap ada kesempatan secara ikhlas.
Oleh: A Rahman Habsyi (Sahabat Iman)
Secara terminologi, kata hiijrah berarti proses peralihan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Hijrah juga merupakan bukti keimanan seorang hamba, dengan harapan dengan kendaraan hijrah ia akan mendapatkan curahan Rahmat Ilahi.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS al-Baqarah: 218)
Dari sini menjadi jelas bahwa tidak mungkin ada hijrah tanpa keimanan. Iman sebagai wujud bahwa orang tersebut menggunakan akal dan hati secara harmonis dan ikhlas.
Memutuskan untuk hijrah dan kembali menjalankan perintah agama, memang bukanlah hal yang mudah. Ada perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk melakukannya. Meninggalkan masa lalu memang bukan perkara yang mudah. Selain karena telah menjadi kebiasaan, butuh tekad yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Belum lagi dengan berbagai risiko yang didapatkan, seperti mendapatkan kometar negatif bahkan cibiran, kehilangan teman lama, tercerabut dari komunitas dan yang lainnya.
Hijrah mengajarkan agar manusia jangan sebatas berubah pada tataran “bungkus diri” (packaging) tapi pada tataran “isi diri” yang memunculkan keshalihan sosial yang nyata. Kenyataan keshalihan sosial bukan untuk dipublikasi (pamer) bagi popularitas sesaat, tapi harus menjadi tradisi yang dilakukan setiap ada kesempatan secara ikhlas.