Gontor Jadi Pelopor Pesantren Modern, Ini 16 Falsafah yang Diajarkan
Muhajirin
Sabtu, 10 September 2022 - 14:35 WIB
Salah satu filosofi yang selalu ditanyakan kepada santri Gontor (foto: istimewa)
Peneliti Senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin, mengatakan, Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki falsafah kuat hingga mampu bertahan hampir satu abad.
Pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur itu ternyata didirikan pada 1926. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Fakta paling mencengangkan, pesantren itu didirikan tiga pemuda kakak beradik yang masih belia yakni KH Ahmad Sahal (25 tahun), KH Zainuddin Fanani (18 tahun), dan KH Imam Zarkasyi (16 tahun).
“Sulit dibayangkan. Dalam usia sebelia itu alam pikiran mereka sudah melampaui zaman dan lingkungan tempat tinggalnya yang jauh dari perkotaan dan informasi,” kata Henri melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).
Baca Juga: Yakini Kualitas Pendidikan PMDG, Kakek sampai Cucu Nyantri di Gontor
Bahkan, pada 1958, saat pondok Gontor mulai membesar, mereka secara resmi mewakafkannya kepada umat Islam. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim lagi bahwa pondok Gontor adalah aset kekayaan mereka.
“Dengan kata lain, susah payah mendirikan pondok dengan uang pribadi dan warisan keluarga, tapi setelah bertambah besar dan terkenal langsung diwakafkan. Inilah makna zuhud yang benar-benar sulit dinalar kecuali bagi mereka yang dikarunia kejernihan qalbu,” ujar Henri.
Pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur itu ternyata didirikan pada 1926. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Fakta paling mencengangkan, pesantren itu didirikan tiga pemuda kakak beradik yang masih belia yakni KH Ahmad Sahal (25 tahun), KH Zainuddin Fanani (18 tahun), dan KH Imam Zarkasyi (16 tahun).
“Sulit dibayangkan. Dalam usia sebelia itu alam pikiran mereka sudah melampaui zaman dan lingkungan tempat tinggalnya yang jauh dari perkotaan dan informasi,” kata Henri melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).
Baca Juga: Yakini Kualitas Pendidikan PMDG, Kakek sampai Cucu Nyantri di Gontor
Bahkan, pada 1958, saat pondok Gontor mulai membesar, mereka secara resmi mewakafkannya kepada umat Islam. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim lagi bahwa pondok Gontor adalah aset kekayaan mereka.
“Dengan kata lain, susah payah mendirikan pondok dengan uang pribadi dan warisan keluarga, tapi setelah bertambah besar dan terkenal langsung diwakafkan. Inilah makna zuhud yang benar-benar sulit dinalar kecuali bagi mereka yang dikarunia kejernihan qalbu,” ujar Henri.