LANGIT7.ID, Jakarta - Peneliti Senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin, mengatakan,
Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki falsafah kuat hingga mampu bertahan hampir satu abad.
Pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur itu ternyata didirikan pada 1926. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Fakta paling mencengangkan, pesantren itu didirikan tiga pemuda kakak beradik yang masih belia yakni KH Ahmad Sahal (25 tahun), KH Zainuddin Fanani (18 tahun), dan KH Imam Zarkasyi (16 tahun).
“Sulit dibayangkan. Dalam usia sebelia itu alam pikiran mereka sudah melampaui zaman dan lingkungan tempat tinggalnya yang jauh dari perkotaan dan informasi,” kata Henri melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).
Baca Juga: Yakini Kualitas Pendidikan PMDG, Kakek sampai Cucu Nyantri di Gontor
Bahkan, pada 1958, saat pondok Gontor mulai membesar, mereka secara resmi mewakafkannya kepada umat Islam. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim lagi bahwa pondok Gontor adalah aset kekayaan mereka.
“Dengan kata lain, susah payah mendirikan pondok dengan uang pribadi dan warisan keluarga, tapi setelah bertambah besar dan terkenal langsung diwakafkan. Inilah makna zuhud yang benar-benar sulit dinalar kecuali bagi mereka yang dikarunia kejernihan qalbu,” ujar Henri.
Pada 1952, Menteri Wakaf Mesir, Syekh Hasan Al-Baquri, datang ke Gontor. Dia menyatakan, hal yang menjamin kelestarian pondok bukan gedung-gedung megah, santri yang banyak, guru yang hebat, tapi falsafah pondok itu sendiri.
“Maka tidak heran jika Syekh Syaltut (Rektor Al-Azhar tahun 1958) pernah mengatakan supaya di Indonesia ini ada 1000 Gontor,” kata Henri.
Baca Juga: Gontor Terus Berbenah Pascakasus Wafatnya Santri AM
Nah, apa falsafah hidup Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor? Henri mencatat, setidaknya ada 16 falsafah trimurti yang diajarkan di Gontor dan terus dia pegang hingga sampai saat ini.
1. Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap ku ajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena. (KH Imam Zarkasyi)
2. Ya, Allah daripada aku melihat bangkai Pondokku, pundutlah (matikanlah) aku lebih dahulu. (KH Ahmad Sahal)
3. Kalau makan, minum dan tempat tidur saya lebih baik daripada makan, minum dan tempat tidur anak-anak saya (santri saya), supaya anak-anak protes. (KH Ahmad Sahal)
4. Saya malu kalau rumah saya lebih baik daripada Masjidnya. (KH Ahmad Sahal)
5. Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keuntunganmu. (KH Imam Zarkasyi)
6. "Berdiri diatas dan untuk semua golongan." (TRIMURTI )
7. Motto pendidikan: "Berbudi tinggi berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas." (TRIMURTI)
8. Panca Jiwa Pondok, yaitu ; Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, kebebasan.(TRIMURTI)
9. Hidup sekali hiduplah yang berarti. (KH Imam Zarkasyi)
10. Jadilah Ulama yang intelek, bukan hanya intelek yang tahu agama. (KH Imam Zarkasyi)
11. Berjasalah tapi jangan minta jasa. (KH Imam Zarkasyi)
12. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. (KH Ahmad Sahal)
13. Kunci keberhasilan Guru dalam mengajar adalah kecintaan sang guru kepada muridnya (kalau seorang guru benar-benar mencintai muridnya ia tentu akan mujahadah lahir dan batin, segala cara akan dicapai, maka akhirnya tentu akan mendapatkan cara/metode yang tepat, sehingga murid dapat menerima ilmu yang diajarkannya). (KH Ahmad Sahal)
14. Kalau kamu mengajarkan suatu mata pelajaran niatilah: kamu jadi profesor dalam mata pelajaran itu. (KH Imam Zarkasyi)
15. Kamu adalah orang-orang yang berharga, tapi jangan minta dihargai, kalau minta dihargai harga dirimu habis, sepeser pun tidak ada. (KH Imam Zarkasyi)
16. Kalau kamu hidup itu hanya untuk hidup senang, cukup sandang pangan, punya rumah dan isteri, lalu punya anak, kalau hanya itu saja, itu sama dengan kambing. (KH Imam Zarkasyi)
(jqf)