Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, Sejarawan: Terjadi di Bulan Ramadhan Berkat Rahmat Allah
Ahmad zuhdi
Senin, 16 Agustus 2021 - 07:55 WIB
Prosesi Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibacakan oleh Ir Soekarno (foto: ANRI)
Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Indonesia berhasil menjadi bangsa yang merdeka yang diproklamirkan oleh Ir Soekarno dan Moh Hatta.
Kala itu, kendati mendapat halangan dari Jenderal Nishimura dari Angkatan Darat Jepang, tetapi malam menjelang 17 Agustus 1945, para pejuang kemerdekaan mendapat bantuan dari Laksamana Maeda dari Angkatan Laut Jepang.Sebenarnya, Laksamana Maeda pada masa berkuasanya tidak ikut menyebarkan janji kemerdekaan dari Perdana Menteri Koiso, 7 September 1944, Kamis Pahing, 18 Ramadhan 1363, karena wilayah kekuasaan Kaigun di luar Jawa dan Sumatera.
Walaupun demikian, pada malam 17 Agustus 1945, justru Laksamana Maeda mengizinkan rumahnya untuk dijadikan arena perundingan tentang teks proklamasi yang akan dibacakan esok hari. Namun, para pembesar balatentara Jepang tidak ikut serta.
Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pagi waktu sahur di bulan ramadhan, teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta, dan ditulis dengan tangan oleh Bung Karno, kalimat pertama diambil dari preambule atau Piagam Jakarta 22 Juni 1945:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia."
Semula Bung Karno merasa cukup dengan teks tersebut. Atas usul Bung Hatta ditambahkan dengan kalimat kedua:
"Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."
Kala itu, kendati mendapat halangan dari Jenderal Nishimura dari Angkatan Darat Jepang, tetapi malam menjelang 17 Agustus 1945, para pejuang kemerdekaan mendapat bantuan dari Laksamana Maeda dari Angkatan Laut Jepang.Sebenarnya, Laksamana Maeda pada masa berkuasanya tidak ikut menyebarkan janji kemerdekaan dari Perdana Menteri Koiso, 7 September 1944, Kamis Pahing, 18 Ramadhan 1363, karena wilayah kekuasaan Kaigun di luar Jawa dan Sumatera.
Walaupun demikian, pada malam 17 Agustus 1945, justru Laksamana Maeda mengizinkan rumahnya untuk dijadikan arena perundingan tentang teks proklamasi yang akan dibacakan esok hari. Namun, para pembesar balatentara Jepang tidak ikut serta.
Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pagi waktu sahur di bulan ramadhan, teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta, dan ditulis dengan tangan oleh Bung Karno, kalimat pertama diambil dari preambule atau Piagam Jakarta 22 Juni 1945:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia."
Semula Bung Karno merasa cukup dengan teks tersebut. Atas usul Bung Hatta ditambahkan dengan kalimat kedua:
"Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."