Prof KH Ahmad Imam Mawardi, Perpustakaan Berjalan itu telah Tiada
Muhajirin
Senin, 16 Agustus 2021 - 14:55 WIB
Prof Dr KH Ahmad Imam Mawardi (foto: maaliflaammiim.sch.id)
Menjelang Adzan Magrib pada Ahad (15/8/2021), pendiri Pondok Pesantren Alif Laam Miim, Jambangan, Surabaya, Prof KH Ahmad Imam Mawardi, meninggal dunia. Kabar duka itu juga mengagetkan dosen, mahasiswa, dan tokoh masyarakat karena merasa kehilangan sosok akademisi penceramah, penulis, dan motivator terbaik UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kabar duka itu diungkapkan penulis buku Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, Prof. Ali Haidar, melalui akun facebook-nya.
“Masih muda, semangat luar biasanya tinggi. Selama jalan Prof Dr. Kiai Imam Mawardi, Ph.D. Saya mengenal anda sebagai pribadi santun, baik hati, dan tekun bekerja luar biasa,” tutur beliau.
KH Ahmad Imam Mawardi belum lama ini menyandang jabatan fungsional sebagai profesor, Guru Besar dalam bidang Maqasid Syariah dari Fakultas Syari’ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Sosok Prof KH Imam Mawardi adalah seorang penulis dan motivator. Di laman facebook beliau, Ahmad Imam Mawardi, dipenuhi tulisan-tulisan motivasi dan sangat menarik untuk disimak.
Salah satu murid Prof KH Ahmad Imam Mawardi, Gus Rijal Mumazziq, menceritakan sosok beliau yang memiliki warisan keilmuan yang sangat mengagumkan. Gus Rijal merupakan mahasiswa KH Ahmad Imam Mawardi saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia juga sering juga sowan ke ndalemnya di Wonokromo Surabaya.
“Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi,” kata Gus Rijal dari laman INAIFAS, Senin (16/8/2021).
Gus Rijal menjuluki KH Ahmad Imam Mawardi sebagai perpustakaan berjalan. Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, almarhum selalu menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap seperti nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halaman.
Kabar duka itu diungkapkan penulis buku Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, Prof. Ali Haidar, melalui akun facebook-nya.
“Masih muda, semangat luar biasanya tinggi. Selama jalan Prof Dr. Kiai Imam Mawardi, Ph.D. Saya mengenal anda sebagai pribadi santun, baik hati, dan tekun bekerja luar biasa,” tutur beliau.
KH Ahmad Imam Mawardi belum lama ini menyandang jabatan fungsional sebagai profesor, Guru Besar dalam bidang Maqasid Syariah dari Fakultas Syari’ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Sosok Prof KH Imam Mawardi adalah seorang penulis dan motivator. Di laman facebook beliau, Ahmad Imam Mawardi, dipenuhi tulisan-tulisan motivasi dan sangat menarik untuk disimak.
Salah satu murid Prof KH Ahmad Imam Mawardi, Gus Rijal Mumazziq, menceritakan sosok beliau yang memiliki warisan keilmuan yang sangat mengagumkan. Gus Rijal merupakan mahasiswa KH Ahmad Imam Mawardi saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia juga sering juga sowan ke ndalemnya di Wonokromo Surabaya.
“Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi,” kata Gus Rijal dari laman INAIFAS, Senin (16/8/2021).
Gus Rijal menjuluki KH Ahmad Imam Mawardi sebagai perpustakaan berjalan. Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, almarhum selalu menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap seperti nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halaman.