LANGIT7.ID - Menjelang Adzan Magrib pada Ahad (15/8/2021), pendiri Pondok Pesantren Alif Laam Miim, Jambangan, Surabaya, Prof KH Ahmad Imam Mawardi, meninggal dunia. Kabar duka itu juga mengagetkan dosen, mahasiswa, dan tokoh masyarakat karena merasa kehilangan sosok akademisi penceramah, penulis, dan motivator terbaik UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kabar duka itu diungkapkan penulis buku Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, Prof. Ali Haidar, melalui akun facebook-nya.
“Masih muda, semangat luar biasanya tinggi. Selama jalan Prof Dr. Kiai Imam Mawardi, Ph.D. Saya mengenal anda sebagai pribadi santun, baik hati, dan tekun bekerja luar biasa,” tutur beliau.
KH Ahmad Imam Mawardi belum lama ini menyandang jabatan fungsional sebagai profesor, Guru Besar dalam bidang Maqasid Syariah dari Fakultas Syari’ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Sosok Prof KH Imam Mawardi adalah seorang penulis dan motivator. Di laman facebook beliau, Ahmad Imam Mawardi, dipenuhi tulisan-tulisan motivasi dan sangat menarik untuk disimak.
Salah satu murid Prof KH Ahmad Imam Mawardi, Gus Rijal Mumazziq, menceritakan sosok beliau yang memiliki warisan keilmuan yang sangat mengagumkan. Gus Rijal merupakan mahasiswa KH Ahmad Imam Mawardi saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia juga sering juga sowan ke ndalemnya di Wonokromo Surabaya.
“Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi,” kata Gus Rijal dari laman INAIFAS, Senin (16/8/2021).
Gus Rijal menjuluki KH Ahmad Imam Mawardi sebagai perpustakaan berjalan. Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, almarhum selalu menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap seperti nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halaman.
Prof KH Ahmad Imam Mawardi juga sangat dekat dengan mahasiswa dan mampu mengajar dengan metode pembelajaran yang menarik. Tak jarang, jika memberi tugas kepada mahasiswa, beliau memberi hadiah berupa lembaran rupiah untuk yang mendapatkan nilai A+.
Pada 2011, terbit buku karya Prof KH Ahmad Imam Mawardi berjudul ‘Fiqh Minoritas; Fiqh Al-Aqalliyyat dan Evolusi Maqashid Al-Syari’ah dari Konsep ke Pendekatan’ yang diterbitkan LKiS Yogyakarta. Menurut Gus Rijal, isi dari buku mengandung ilmu yang sangat luas.
“Waktu itu, kami diminta untuk mendiskusikan buku tersebut di kelas, dan juga diminta oleh Prof. Mawardi untuk memberikan masukan dan kritik atas buku yang beliau tulis di atas. Sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang menarik!” ucap Gus Rijal.
Gus Rijal juga memiliki pengalaman intelektual bersama KH Ahmad Imam Mawardi pada 28 januari 2020. Waktu itu, INAIFAS Kencong Jember mengundang beliau untuk menjadi pemateri dalam Studium Generale. Dalam kondisi yang masih capek setelah mengisi seminar di Turki, almarhum langsung ke Kencong, Jember, memberi motivasi mahasiswa.
“Penyampaiannya tetap menarik, sistematis, kaya data dan referensi, dan tentu saja humoris. Gestur tubuhnya juga khas saat memotivasi: berdiri, ekspresi wajah yang mendukung, juga berjalan kesana-kemari. Perpaduan komplit retorika ala mubalig dan kecerdasan akademisi. Lucu tapi penuh data!," tutur Gus Rijal.
Gus Rijal mengaku sangat kehilangan sosok KH Ahmad Imam Mawardi. Ia kehilangan sosok guru multitalenta. Almarhum memiliki amal jariyah yang terus mengalir, terutama di bidang pendidikan. Pesantren Alif Lam Mim juga menjadi prasasti kepedulian atas pengembangan dakwah Islam berbasis pesantren di Kota Metropolitan Surabaya.
“Selamat jalan, Guruku. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, menaungi alam kubur beliau dengan cahaya al-Qur’an dan shalawat, lahul Fatihah,” tutur Gus Rijal.
(jqf)