Kisah Mualaf: Profesor Matematika Dapat Hidayah Setelah Baca Qur'an
Ummu hani
Selasa, 11 Oktober 2022 - 06:00 WIB
Kisah Mualaf: Profesor Matematika Dapat Hidayah Setelah Baca Al Quran. Foto: Langit7.id/iStock.
Ada banyak cara Allah SWT dalam memberikan hidayah kepada hambNya. Seperti kisah Jeffrey Lang, seorang Profesor Matematika di Universitas Kansas Amerika Serikat, yang mendapatkan petunjuk Allah SWT menjemput hidayah-Nya.
Sejak kecil, Lang suka bertanya tentang kehidupan dan agama. Ia memiliki rasa penasaran tinggi, mengapa Tuhan ada dan punya kasih sayang tapi begitu banyak penderitaan di atas bumi. Lang merupakan orang yang tumbuh dan besar beragama Katolik.
Lang memiliki rasa penasaran tinggi, mengapa Tuhan tidak memasukkan manusia ke surga untuk mendapatkan kedamaian dalam hidup. Pertanyaan itu dia sampaikan kepada ayahnya, temannya, dan pendetanya.
Baca Juga:Kisah Aris Tareluhan, Masuk Islam karena Mimpi
Lang berusaha memecahkan pertanyaan tersebut, tapi jawaban guru maupun pendetanya tidak memuaskan. Hingga pada usia 18 tahun, ia memutuskan menjadi ateis atau tak percaya Tuhan.
Dalam masa itu, ia berkali-kali bermimpi berada di ruang bawah tanah yang kosong bertembok putih. Lantai di ruangan tersebut berkarpet merah putih disertai jendela kecil dengan cahaya terang dan suasana hening.
Lang merasa sedang duduk di atas tumit bersama banyak lelaki menghadap jendela. Di jendela tersebut Lang melihat punggung seorang yang memimpin barisan dengan berdiri memakai jubah panjang dan berselendang putih.
Sejak kecil, Lang suka bertanya tentang kehidupan dan agama. Ia memiliki rasa penasaran tinggi, mengapa Tuhan ada dan punya kasih sayang tapi begitu banyak penderitaan di atas bumi. Lang merupakan orang yang tumbuh dan besar beragama Katolik.
Lang memiliki rasa penasaran tinggi, mengapa Tuhan tidak memasukkan manusia ke surga untuk mendapatkan kedamaian dalam hidup. Pertanyaan itu dia sampaikan kepada ayahnya, temannya, dan pendetanya.
Baca Juga:Kisah Aris Tareluhan, Masuk Islam karena Mimpi
Lang berusaha memecahkan pertanyaan tersebut, tapi jawaban guru maupun pendetanya tidak memuaskan. Hingga pada usia 18 tahun, ia memutuskan menjadi ateis atau tak percaya Tuhan.
Dalam masa itu, ia berkali-kali bermimpi berada di ruang bawah tanah yang kosong bertembok putih. Lantai di ruangan tersebut berkarpet merah putih disertai jendela kecil dengan cahaya terang dan suasana hening.
Lang merasa sedang duduk di atas tumit bersama banyak lelaki menghadap jendela. Di jendela tersebut Lang melihat punggung seorang yang memimpin barisan dengan berdiri memakai jubah panjang dan berselendang putih.