Cinta Tanah Air ala Pesantren, Nasionalisme Mulai dari Desa
Muhajirin
Selasa, 17 Agustus 2021 - 07:58 WIB
Upacara Hari Santri di Grobogan Jawa Tengah (foto: grobogan.go.id)
Pesantren selain menjadi institusi pendidikan tertua di Nusantara, juga dikenal sebagai basis perjuangan melawan penjajah kolonial. Hal itu terjadi sebab pesantren amat mencintai tanah air. Dan ekspresinya dimulai dari skala desa.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, menjelaskan salah satu ciri pesantren yaitu memiliki ikatan historis yang kokoh dengan lokasi berdiri. Misal pesantren kuno yang berdiri pada abad 18 hingga abad 20, lebih terkenal dengan nama desa tempatnya berdiri.
Baca Juga: Pondok Pesantren: Titik Awal Penyebaran Peradaban Islam di Nusantara
Menurutnya, ini adalah salah satu bentuk nasionalisme pesantren yang mencintai tanah airnya dalam skala desa. Maka tak heran, bukan hal sulit bagi pesantren untuk mengembangkan nasionalisme tersebut dalam skala bangsa sebab telah dimulai dari desa.
Gus Rijal mencontohkan nama pesantren yang ada di Jawa Timur selalu bernama sesuai dengan desa. Di antaranya Gebang Tinatar, Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, Lirboyo, Sidoresmo, Sidogiri, Ploso, Rejoso, Genggong, Paiton, Sukorejo dan sebagainya. Kemudian di Madura ada Guluk-Guluk, Bata-Bata, Banyuanyar, dan Kademangan. Di Jawa Tengah ada Kajen, Tegalrejo, Sarang, dan Leteh. Ada Krapyak di Yogyakarta, hingga Suryalaya Cipasung, dan Buntet di Jawa Barat.
“Keberadaan pesantren turut mempopulerkan nama kampung-kampung ini. Desa adalah penyangga peradaban, sokoguru yang menopang orang-orang hebat, tapi seringkali dipandang remeh sebagai wilayah periferal, tidak kosmopolit, ketinggalan zaman, dan anggapan pejoratif lainnya,” kata kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Para ulama tidak hanya senafas dengan kehidupan orang kampung, namun juga mempopulerkan desa kelahiran mereka atau lokasi tempat mendirikan pesantren ke kancah nasional hingga internasional. Para kiai pendiri ini mengikuti jejak para pendahulunya yang selalu bangga dengan identitasnya sebagai ‘wong ndeso’ dan identitas primordialnya seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Syekh Sholeh bin Umar As-Samarani, Syekh Mukhtar al-Bughuri, Syekh Baqir al-Jugjawy, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Khatib Minangkabawi, Syekh Khatib As-Sambasi, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, hingga Syekh Yusuf al-Maqassary.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, menjelaskan salah satu ciri pesantren yaitu memiliki ikatan historis yang kokoh dengan lokasi berdiri. Misal pesantren kuno yang berdiri pada abad 18 hingga abad 20, lebih terkenal dengan nama desa tempatnya berdiri.
Baca Juga: Pondok Pesantren: Titik Awal Penyebaran Peradaban Islam di Nusantara
Menurutnya, ini adalah salah satu bentuk nasionalisme pesantren yang mencintai tanah airnya dalam skala desa. Maka tak heran, bukan hal sulit bagi pesantren untuk mengembangkan nasionalisme tersebut dalam skala bangsa sebab telah dimulai dari desa.
Gus Rijal mencontohkan nama pesantren yang ada di Jawa Timur selalu bernama sesuai dengan desa. Di antaranya Gebang Tinatar, Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, Lirboyo, Sidoresmo, Sidogiri, Ploso, Rejoso, Genggong, Paiton, Sukorejo dan sebagainya. Kemudian di Madura ada Guluk-Guluk, Bata-Bata, Banyuanyar, dan Kademangan. Di Jawa Tengah ada Kajen, Tegalrejo, Sarang, dan Leteh. Ada Krapyak di Yogyakarta, hingga Suryalaya Cipasung, dan Buntet di Jawa Barat.
“Keberadaan pesantren turut mempopulerkan nama kampung-kampung ini. Desa adalah penyangga peradaban, sokoguru yang menopang orang-orang hebat, tapi seringkali dipandang remeh sebagai wilayah periferal, tidak kosmopolit, ketinggalan zaman, dan anggapan pejoratif lainnya,” kata kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Para ulama tidak hanya senafas dengan kehidupan orang kampung, namun juga mempopulerkan desa kelahiran mereka atau lokasi tempat mendirikan pesantren ke kancah nasional hingga internasional. Para kiai pendiri ini mengikuti jejak para pendahulunya yang selalu bangga dengan identitasnya sebagai ‘wong ndeso’ dan identitas primordialnya seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Syekh Sholeh bin Umar As-Samarani, Syekh Mukhtar al-Bughuri, Syekh Baqir al-Jugjawy, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Khatib Minangkabawi, Syekh Khatib As-Sambasi, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, hingga Syekh Yusuf al-Maqassary.