LANGIT7.ID, Jember - Pesantren selain menjadi institusi pendidikan tertua di Nusantara, juga dikenal sebagai basis perjuangan melawan penjajah kolonial. Hal itu terjadi sebab pesantren amat mencintai tanah air. Dan ekspresinya dimulai dari skala desa.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, menjelaskan salah satu ciri pesantren yaitu memiliki ikatan historis yang kokoh dengan lokasi berdiri. Misal pesantren kuno yang berdiri pada abad 18 hingga abad 20, lebih terkenal dengan nama desa tempatnya berdiri.
Baca Juga: Pondok Pesantren: Titik Awal Penyebaran Peradaban Islam di NusantaraMenurutnya, ini adalah salah satu bentuk nasionalisme pesantren yang mencintai tanah airnya dalam skala desa. Maka tak heran, bukan hal sulit bagi pesantren untuk mengembangkan nasionalisme tersebut dalam skala bangsa sebab telah dimulai dari desa.
Gus Rijal mencontohkan nama pesantren yang ada di Jawa Timur selalu bernama sesuai dengan desa. Di antaranya Gebang Tinatar, Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, Lirboyo, Sidoresmo, Sidogiri, Ploso, Rejoso, Genggong, Paiton, Sukorejo dan sebagainya. Kemudian di Madura ada Guluk-Guluk, Bata-Bata, Banyuanyar, dan Kademangan. Di Jawa Tengah ada Kajen, Tegalrejo, Sarang, dan Leteh. Ada Krapyak di Yogyakarta, hingga Suryalaya Cipasung, dan Buntet di Jawa Barat.
“Keberadaan pesantren turut mempopulerkan nama kampung-kampung ini. Desa adalah penyangga peradaban, sokoguru yang menopang orang-orang hebat, tapi seringkali dipandang remeh sebagai wilayah periferal, tidak kosmopolit, ketinggalan zaman, dan anggapan pejoratif lainnya,” kata kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Para ulama tidak hanya senafas dengan kehidupan orang kampung, namun juga mempopulerkan desa kelahiran mereka atau lokasi tempat mendirikan pesantren ke kancah nasional hingga internasional. Para kiai pendiri ini mengikuti jejak para pendahulunya yang selalu bangga dengan identitasnya sebagai ‘wong ndeso’ dan identitas primordialnya seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Syekh Sholeh bin Umar As-Samarani, Syekh Mukhtar al-Bughuri, Syekh Baqir al-Jugjawy, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Khatib Minangkabawi, Syekh Khatib As-Sambasi, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, hingga Syekh Yusuf al-Maqassary.
Menurut Gus Rijal, berpikir global bertindak lokal ini juga bisa lacak dari peran pesantren sebagai juru rawat bahasa lokal. Dalam tradisi pembacaan kitab klasik di pesantren, lazim kita jumpai penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa maknawi (makno gandul) dan bahasa pengantar dalam bentuk metode sorogan (tutorial) dan bandongan (seminar). Jawa, Sunda, Madura, Melayu, antara lain bisa kita jumpai dalam tradisi ini.
“Ini adalah upaya jenius dalam melindungi kepunahan bahasa-bahasa lokal, sungguhpun di dalam memaknai kata per kata, banyak sekali kosakata bahasa daerah yang mulai asing karena jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari,” ucap Gus Rijal.
Selain dua aspek penjaga kebudayaan tersebut, pesantren memiliki kontribusi dalam ruang lingkup yang lebih besar sebagai lembaga yang banyak melahirkan para mujahidin dalam mempertahankan kemerdekaan RI.
“Tidak perlu saya ulas panjang lebar bagaimana perjuangan para ulama dan santri ini. Sudah gamblang nan jelas. Cetho Welo-Welo dalam istilah Jawa,” tutur Gus Rijal.
Gus Rijal menegaskan, ada banyak aspek menarik dari pesantren yang bisa dikupas. Sebut saja sanad ilmu dan rohani para ulama pesantren, relasi antara kiai dengan satu kiai lain melalui ‘besanan’, tradisi ilmu hikmah, kanuragan, dan pertabiban, tradisi kepenulisan dalam multibahasa (Arab, Indonesia, dan daerah), kiprah politik kebangsaan para kiai, jaringan internasional ulama Nusantara dengan Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, dan sebagainya.
“Yang pasti, mengabaikan keberadaan pesantren dalam lanskap sejarah peradaban Islam Indonesia adalah sebuah hal yang ahistoris, antiklimaks, dan ironis,” ucap Gus RIjal.
(jqf)