Pondok Pesantren: Titik Awal Penyebaran Peradaban Islam di Nusantara
Muhajirin
Selasa, 17 Agustus 2021 - 08:51 WIB
Ampel Tempo Dulu (foto: tropen museum)
Pondok pesantren di Tanah Air sudah berusia lebih dari setengah millennium atau hampir seribu tahun. Pesantren tak hanya menjadi sentra pendidikan Islam, namun berperan sebagai lembaga sosial, kultural bahkan politik.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, mengatakan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tahan banting hingga saat ini dalam mewujudkan peradaban Islam di Indonesia.
Secara historis, keberadaan pesantren kerkembang sejak era Walisongo. Unsur-unsur pendidikan yang sudah mengakar di Jawa tidak dibuang, tapi Walisongo mereformasi dan memodifikasinya.
Pesantren diramu dari watak pendidikan Jawa saat itu. Mulai dari Mandala, Ashram, hingga Padepokan, dan sentuhan kitab etik bagi pelajar seperti ta’limul muta’allim dan pesulukan.
Aguk Irawan MN dalam bukunya ‘Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (Dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso) melacak akar etika pesantren. Dalam perkembangannya, pesantren memiliki orisinalitas yang berbeda dengan kuttab, madrasah, dan jami’ah. Dari sini bisa dilihat bahwa pesantren tidak hanya menjadi pondasi pendidikan Islam saja, namun juga dalam dinamisasi budaya.
“Yang tidak sesuai dengan misi dakwah dan pendidikan dibuang, yang masih relevan dipertahankan dan dikembangkan. Karena dinamika ini, maka hingga setengah millennium, pesantren menjadi sebuah ‘warisan pendidikan dan budaya’ yang tetap anggun hingga kini,” kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Gus Rijal menjelaskan, pada era Walisongo, pesantren menjadi kawah candradimuka kaderisasi para dai yang hendak dikirim ke luar Jawa. Ampel Denta, tanah perdikan yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya, telah menjadi lahan persemaian kaderisasi dai. Para santri yang dianggap sudah mumpuni, dikirim ke wilayah Nusantara Timur melalui rute armada dagang yang dikelola Nyi Gede Pinatih, salah satu saudagar kaya di Tuban.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, mengatakan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tahan banting hingga saat ini dalam mewujudkan peradaban Islam di Indonesia.
Secara historis, keberadaan pesantren kerkembang sejak era Walisongo. Unsur-unsur pendidikan yang sudah mengakar di Jawa tidak dibuang, tapi Walisongo mereformasi dan memodifikasinya.
Pesantren diramu dari watak pendidikan Jawa saat itu. Mulai dari Mandala, Ashram, hingga Padepokan, dan sentuhan kitab etik bagi pelajar seperti ta’limul muta’allim dan pesulukan.
Aguk Irawan MN dalam bukunya ‘Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (Dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso) melacak akar etika pesantren. Dalam perkembangannya, pesantren memiliki orisinalitas yang berbeda dengan kuttab, madrasah, dan jami’ah. Dari sini bisa dilihat bahwa pesantren tidak hanya menjadi pondasi pendidikan Islam saja, namun juga dalam dinamisasi budaya.
“Yang tidak sesuai dengan misi dakwah dan pendidikan dibuang, yang masih relevan dipertahankan dan dikembangkan. Karena dinamika ini, maka hingga setengah millennium, pesantren menjadi sebuah ‘warisan pendidikan dan budaya’ yang tetap anggun hingga kini,” kata Gus Rijal dalam tulisannya berjudul Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam di Indonesia, dikutip Selasa, (17/8/2021).
Gus Rijal menjelaskan, pada era Walisongo, pesantren menjadi kawah candradimuka kaderisasi para dai yang hendak dikirim ke luar Jawa. Ampel Denta, tanah perdikan yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya, telah menjadi lahan persemaian kaderisasi dai. Para santri yang dianggap sudah mumpuni, dikirim ke wilayah Nusantara Timur melalui rute armada dagang yang dikelola Nyi Gede Pinatih, salah satu saudagar kaya di Tuban.