Santri Harus Paham Keislaman, Kebangsaan, dan Keindonesiaan
Hasanah syakim
Ahad, 30 Oktober 2022 - 12:00 WIB
Santri Harus Paham Keislaman, Kebangsaan, dan Keindonesiaan. Foto: Hasanah.
Proyeksi Indonesia emas 2045 menjadi salah satu mimpi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat, sehingga ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama oleh generasi muda sebagai penerus bangsa.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman menjelaskan bangsa Indonesia harus memikirkan bahwa yang membedakan Indonesia, dengan negara-negara lain, salah satunya ciri religiusitas dan keberagamaan di Indonesia yang begitu khas.
"Untuk memahami Indonesia, santri harus paham bahwa spiritualitas, tidak akan pernah bisa hilang dari aktivitas berbangsa dan bernegara. Misalnya kalau di negara lain mungkin ekstrem memisahkan agama dari negara, sehingga jadi negara sekuler," kata Prof Oman saat ditemui di kediamannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, Prof Oman mengatakan, ada juga negara yang berlandaskan pada satu agama saja, akan tetapi di Indonesia sendiri menjadi khas karena bukan negara sekuler, bukan juga negara yang memisahkan agama dari negara.
"Jadi pada saat yang sama Indonesia juga bukanlah negara yang berlandaskan pada salah satu agama. Dalam undang-undang kita, dari presiden hingga ke bawah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, anti kekerasan dan lainnya," ujarnya.
Selanjutnya, Prof Oman menuturkan banyak sekali dapat diambil dari agama termasuk sopan santun, adab, dan lainnya banyak sekali. Akan tetapi itu tidak menjadi ideologi negara karena heterogenitas atau keragaman bangsa Indonesia.
Baca Juga:Wapres Minta Santri Optimalkan Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis Digital
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman menjelaskan bangsa Indonesia harus memikirkan bahwa yang membedakan Indonesia, dengan negara-negara lain, salah satunya ciri religiusitas dan keberagamaan di Indonesia yang begitu khas.
"Untuk memahami Indonesia, santri harus paham bahwa spiritualitas, tidak akan pernah bisa hilang dari aktivitas berbangsa dan bernegara. Misalnya kalau di negara lain mungkin ekstrem memisahkan agama dari negara, sehingga jadi negara sekuler," kata Prof Oman saat ditemui di kediamannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, Prof Oman mengatakan, ada juga negara yang berlandaskan pada satu agama saja, akan tetapi di Indonesia sendiri menjadi khas karena bukan negara sekuler, bukan juga negara yang memisahkan agama dari negara.
"Jadi pada saat yang sama Indonesia juga bukanlah negara yang berlandaskan pada salah satu agama. Dalam undang-undang kita, dari presiden hingga ke bawah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, anti kekerasan dan lainnya," ujarnya.
Selanjutnya, Prof Oman menuturkan banyak sekali dapat diambil dari agama termasuk sopan santun, adab, dan lainnya banyak sekali. Akan tetapi itu tidak menjadi ideologi negara karena heterogenitas atau keragaman bangsa Indonesia.
Baca Juga:Wapres Minta Santri Optimalkan Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis Digital