Bunga Rampai Hari Pahlawan: Peran Pesantren dalam Kemerdekaan
Muhajirin
Jum'at, 11 November 2022 - 19:30 WIB
Bunga Rampai Hari Pahlawan: Peran Pesantren dalam Kemerdekaan. Foto: Istimewa.
Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyebut pesantren sebagai subkultur tersendiri dalam sejarah. Pesantren selalu konsisten dengan sikap nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.
Dalam buku Abdurahman Wahid yang diterbitkan Jakarta LP3ES, 1974 disebutkan, salah satu wujud rasa cinta Tanah Air pesantren terimplementasi melalui perjuangan yang gigih melawan kolonialisme Belanda dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Maka, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, pesantren tidak hanya menjadi basis edukasi bagi masyarakat, khususnya pedesaan. Pesantren juga berperan sebagai pusat perlawanan terhadap bangsa kolonial.
Baca Juga:Peran Ulama dalam Pertempuran 10 November 1945
Dengan slogan jihad fi sabilillah para ulama’ pesantren menjadi motor penggerak perjuangan, bersama-sama dengan rakyat berperang melawan belanda dan sekutu. Oleh karena itu, muncul sederet nama pahlawan yang notabene berasal dari lingkungan pesantren, misalnya KH Hasyim Asy’ari.
Almarhum Azyumadri Azra dalam buku 'Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII' menjelaskan, ulama-ulama Nusantara di Makkah telah meletakkan dasar bagi terciptanya jejaring ulama di Nusantara uyang kemudian menjadi komonitas Ulama. Selain membangun pesantren, ulama memiliki hubungan kuat dalam bidang spritual maupun intelektual.
Dalam buku Abdurahman Wahid yang diterbitkan Jakarta LP3ES, 1974 disebutkan, salah satu wujud rasa cinta Tanah Air pesantren terimplementasi melalui perjuangan yang gigih melawan kolonialisme Belanda dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Maka, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, pesantren tidak hanya menjadi basis edukasi bagi masyarakat, khususnya pedesaan. Pesantren juga berperan sebagai pusat perlawanan terhadap bangsa kolonial.
Baca Juga:Peran Ulama dalam Pertempuran 10 November 1945
Dengan slogan jihad fi sabilillah para ulama’ pesantren menjadi motor penggerak perjuangan, bersama-sama dengan rakyat berperang melawan belanda dan sekutu. Oleh karena itu, muncul sederet nama pahlawan yang notabene berasal dari lingkungan pesantren, misalnya KH Hasyim Asy’ari.
Almarhum Azyumadri Azra dalam buku 'Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII' menjelaskan, ulama-ulama Nusantara di Makkah telah meletakkan dasar bagi terciptanya jejaring ulama di Nusantara uyang kemudian menjadi komonitas Ulama. Selain membangun pesantren, ulama memiliki hubungan kuat dalam bidang spritual maupun intelektual.