Bubur Asyura dan Selamatnya Nabi Nuh dari Banjir Bandang
Fajar adhitya
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 18:23 WIB
(foto: instagram/ rikkypw)
Umat Islam di Indonesia memiliki tradisi Bubur Asyura dalam menyambut 10 Muharram. Kebiasaan menyajikan bubur pada hari Asyura dilakukan masyarakat di berbagai daerah, di antaranya, Jawa, Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Riau.
Metode dan penyajian Bubur Asyura juga berbeda-beda pada tiap daerah. Muslim Makassar misalnya, mereka membuat tujuh macam bubur yang diistilahkan bella pitun rupa, yakni bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu.
Bubur Asyura biasanya guna bersyukur atas berbagai nikmat Allah dan mengambil berkah dari beberapa peristiwa kenabian yang terjadi di bulan Muharram. Pada sisi lain ada juga yang menyajikan Bubur Asyura untuk mengenang wafatnya Sayyidina Husein bin Ali di Karbala.
Pagi hari setiap 10 Muharam, hampir setiap rumah penduduk di Jawa Barat memasak bubur merah dan bubur putih. Bubur Syiro itu lalu dibawa ke masjid bersama dengan beragam makanan ringan lainnya.
Bubur itu lalu didoakan, masyarakat melantunkan shalawat dan membaca kisah hidup Rasulullah dalam Maulid Barzani. Seusai al-Barzanzi dilantunkan, maka akan dibacakanlah manakib Husein bin Ali. Bubur Asyura biasanya dibagi-bagikan kepada tetangga dekat, disedekahkan atau dinimati bersama-sama.
Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin dalam Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan (2015) menuliskan, pada hari Asyura, seperti yang termaktub dalam I’anah al-Thalibin, Allah pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia.
Baca juga:Bubur Syuro Pitun Rupa, Tradisi Sambut 10 Muharram ala Makassar
Metode dan penyajian Bubur Asyura juga berbeda-beda pada tiap daerah. Muslim Makassar misalnya, mereka membuat tujuh macam bubur yang diistilahkan bella pitun rupa, yakni bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu.
Bubur Asyura biasanya guna bersyukur atas berbagai nikmat Allah dan mengambil berkah dari beberapa peristiwa kenabian yang terjadi di bulan Muharram. Pada sisi lain ada juga yang menyajikan Bubur Asyura untuk mengenang wafatnya Sayyidina Husein bin Ali di Karbala.
Pagi hari setiap 10 Muharam, hampir setiap rumah penduduk di Jawa Barat memasak bubur merah dan bubur putih. Bubur Syiro itu lalu dibawa ke masjid bersama dengan beragam makanan ringan lainnya.
Bubur itu lalu didoakan, masyarakat melantunkan shalawat dan membaca kisah hidup Rasulullah dalam Maulid Barzani. Seusai al-Barzanzi dilantunkan, maka akan dibacakanlah manakib Husein bin Ali. Bubur Asyura biasanya dibagi-bagikan kepada tetangga dekat, disedekahkan atau dinimati bersama-sama.
Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin dalam Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan (2015) menuliskan, pada hari Asyura, seperti yang termaktub dalam I’anah al-Thalibin, Allah pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia.
Baca juga:Bubur Syuro Pitun Rupa, Tradisi Sambut 10 Muharram ala Makassar