Jatuh Bangun JS Khairen Jadi Novelis, Sempat Menulis Pakai Mesin Tik Jadul
Muhajirin
Kamis, 01 Desember 2022 - 18:55 WIB
JS Khairen dalam Jakbook Festival di Jakarta, Kamis (1/12/2022) (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Jombang Santani Khairen (J.S Khairen) merupakan salah satu penulis Tanah Air yang sudah menelurkan banyak karya novel. Penulis berdarah Minang ini pertama kali menulis pada 2013 lalu.
Menariknya, J.S Khairen bukan sarjana sastra Indonesia. Dia mengambil gelar strata 1 di Universitas Indonesia jurusan ekonomi. Namun, dia selalu menyempatkan diri untuk menulis apapun yang terlintas dalam kepala. Baik berupa quote, ide cerita, bahkan catatan-catatan perjalanan. Dia menumpahkan ide tulisan tersebut ke dalam buku kecil.
“Pertama kali nulis novel itu pada 2013 judulnya Karnoe di salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Ceritanya tentang seorang office boy di kampus FE UI yang meninggal dunia. Dia bekerja di sana sudah sangat lama. Saya tuliskan jadi novel,” kata J.S Khairen dalam temu pembaca di acara Jakbook Perumda Pasar Jaya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore (1/12/2022).
Baca Juga:Ahmad Fuadi Angkat Sisi Cinta Tak Biasa Hamka di Novel Terbarunya
J.S Khairen mengaku kaget lantaran naskah Karnoe langsung diterima salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Meski, perjalanan buku itu semulus ekspektasi. “Cetakan pertama bahkan tidak habis terjual,” katanya.
Namun, dia tak patah arang. Februari 2014 dia menyelesaikan buku kedua menggunakan mesin ketik jadul. Terbit lagi, tidak laku lagi. Begitu terus sampai buku ke-tujuh. Tujuh buku pertama yang dia tulis tak satupun booming di tengah masyarakat. Bahkan, namanya masih asing jika dibandingkan dengan penulis novel lain seperti Darwis Tere Liye.
“Waktu itu saya bilang ke istri saya, kalau saya udah kerja sesuai ijazah aja deh,” kata J.S Khairen. Tapi, istrinya memberikan semangat. Dia menyemangati agar menulis novel ke-delapan. Jika memang buku itu tidak viral, baru boleh membanting stir untuk kerja kantoran saja.
Menariknya, J.S Khairen bukan sarjana sastra Indonesia. Dia mengambil gelar strata 1 di Universitas Indonesia jurusan ekonomi. Namun, dia selalu menyempatkan diri untuk menulis apapun yang terlintas dalam kepala. Baik berupa quote, ide cerita, bahkan catatan-catatan perjalanan. Dia menumpahkan ide tulisan tersebut ke dalam buku kecil.
“Pertama kali nulis novel itu pada 2013 judulnya Karnoe di salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Ceritanya tentang seorang office boy di kampus FE UI yang meninggal dunia. Dia bekerja di sana sudah sangat lama. Saya tuliskan jadi novel,” kata J.S Khairen dalam temu pembaca di acara Jakbook Perumda Pasar Jaya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore (1/12/2022).
Baca Juga:Ahmad Fuadi Angkat Sisi Cinta Tak Biasa Hamka di Novel Terbarunya
J.S Khairen mengaku kaget lantaran naskah Karnoe langsung diterima salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Meski, perjalanan buku itu semulus ekspektasi. “Cetakan pertama bahkan tidak habis terjual,” katanya.
Namun, dia tak patah arang. Februari 2014 dia menyelesaikan buku kedua menggunakan mesin ketik jadul. Terbit lagi, tidak laku lagi. Begitu terus sampai buku ke-tujuh. Tujuh buku pertama yang dia tulis tak satupun booming di tengah masyarakat. Bahkan, namanya masih asing jika dibandingkan dengan penulis novel lain seperti Darwis Tere Liye.
“Waktu itu saya bilang ke istri saya, kalau saya udah kerja sesuai ijazah aja deh,” kata J.S Khairen. Tapi, istrinya memberikan semangat. Dia menyemangati agar menulis novel ke-delapan. Jika memang buku itu tidak viral, baru boleh membanting stir untuk kerja kantoran saja.