LANGIT7.ID, Jakarta - Penulis Novel, Ahmad Fuadi, meluncurkan novel kelima tentang sosok
Buya Hamka yang berasal dari skenario film garapan Falcon Picture. Novelis Negeri 5 Menara itu mengangkat sisi cinta Buya Hamka dalam novel biografi setebal 376 halaman dan dikemas dalam bahasa sastra.
"Saya jatuh cinta pada
Buya Hamka, begitu dekat di hati saya. Saya lahir di kampung, dekat dari kampung Buya Hamka. Sejak kecil, saya lahir seperti di
universe Hamka, keluarga saya baca buku-buku Hamka, setel radio dengar ceramah Hamka," kata A Fuadi dalam Talkshow Mengenal Hamka Lebih Dekat di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Rabu sore (3/8/2022).
![Ahmad Fuadi Angkat Sisi Cinta Tak Biasa Hamka di Novel Terbarunya]()


Fuadi mendapat tantangan tersendiri saat menulis biografi
Buya Hamka dalam bentuk novel. Bukan karena kekurangan bahan, justru referensi terkait Hamka sangat banyak. Hamka saja menulis 100 buku lebih. Itu belum lagi buku-buku yang ditulis tentang Hamka.
Baca Juga: Upaya Buya Hamka Jaga Independensi MUI dari Intervensi Penguasa
"Jadi, saya berpikir, mau nulis apa? Menulis Hamka sudah bukan hal yang baru. Buya Hamka menulis biografinya sendiri. "Kenang-kenangan Hidup". Otobiografi, dia juga menulis biografi ayahnya, judulnya Ayahku. jadi sangat lengkap bahannya. itu kesulitannya. Apa yang saya mau tulis?," kata A Fuadi.
Dia mengibaratkan
Buya Hamka seperti taman bunga yang sangat luas. Bunga itu pun memiliki warna yang berbeda-beda. A Fuadi mengaku hanya memilih bunga-bunga yang paling indah lalu disajikan dalam gaya bahasa sastra modern.
"Kalau ditanya, apa yang baru, kombinasi bunga-bunga Hamka yang sangat banyak dengan wewangian yang khas. Kemudian, saya lahir di tanah dan airnya Hamka, jadi apa yang lihat Hamka waktu kecil, apa yang saya lihat waktu kecil," ujar A Fuadi.
Baca Juga: Kenakalan Hamka Mengantarnya Berpetualang Hingga Jadi Ulama
Karena saking banyaknya referensi tentang Buya Hamka itulah, Ahmad Fuadi mengangkat sisi yang berbeda dari Buya Hamka yang menurutnya jarang disoroti, yakni mengisahkan Buya Hamka dan cinta yang amat luas yang dimilikinya.
Cinta Hamka Bukan Cinta BiasaAngle utama dari Novel Biografi
Buya Hamka yang ditulis oleh Ahmad Fuadi adalah sisi cinta. Tak hanya sisi romantisme cinta Hamka dengan istrinya, tapi juga relasi cinta yang unik antara Hamka, Ayahnya Abdul Karim Amrullah yang biasa dipanggil Haji Rasul dan Bung Karno. Itulah kisah menarik dalam novel biografi ini yang belum banyak diangkat di novel lainnya.
Baca Juga: Kisah Keteguhan Istri Buya Hamka
Relasi Hamka dengan ayahnya, Abdul Karim Amrullah adalah relasi cinta yang kompleks antara ayah dan anak. Hubungan keduanya naik turun diwarnai berbagai konflik namun tetap kuat kehangatan cinta antara ayah dan anak.
Sang ayah ingin Hamka menjadi ulama besar. Tapi, saat Hamka masih kecil bisa dikatakan nakal. Dia malas datang ke surau untuk belajar, tapi justru ke tempat lain belajar tentang bela diri, seni, hingga sastra.
Kisah berikutnya adalah tentang Presiden Indonesia yang Pertama, Ir Soekarno. Bung Karno memiliki kedekatan dengan ayah Hamka. Haji Rasul pernah diasingkan ke Sukabumi pada masa penjajahan Belanda.
Pada saat memasuki masa penjajahan Jepang, Haji Rasul dipindahkan ke Jakarta. Di sanalah Haji Rasul berkenalan sampai bersahabat dengan Bung Karno. Bahkan, dalam literatur sejarah menyebutkan, Bung Karno menganggap Haji Rasul sebagai guru sekaligus ayah angkat.
Baca Juga: Rocky Gerung: Hamka adalah Simbol Moral yang Tepat untuk Mengevaluasi Bangsa
Di sisi lain, Bung Karno juga memiliki hubungan persahabatan juga dengan Buya Hamka. Hamka mengagumi Bung Karno sebagai sosok yang cocok memimpin Indonesia. Saat Bung Karno diasingkan, Buya Hamka juga aktif mengirimkan tulisan-tulisan kepada bapak proklamator itu.
"Yang dramatis,
Buya Hamka pernah dipenjara dengan tuduhan tidak jelas di masa pemerintahan Bung Karno, padahal mereka berteman. Tapi yang unik di akhir hayat Bung Karno menitip pesan, 'kalau saya meninggal tolong minta Hamka jadi imam shalat jenazah saya'," kata A Fuadi.
Hamka tidak menolak permintaan Bung Karno itu. Dia langsung datang dan menyalati jenazah Bung Karno. "Buya Hamka itu melupakan dendam, yang ada hanya cinta," kata A Fuadi.
(jqf)