Ketua BWI: Universitas Top Dunia Kokoh di Atas Sistem Wakaf
Muhajirin
Rabu, 07 Desember 2022 - 20:25 WIB
Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, mengatakan, universitas-universitas tertua dan top dunia dibangun menggunakan sistem wakaf. Itu menjadi salah satu kunci universitas tersebut bertahan sampai sekarang.
Wakaf atau yang bahasa umumnya adalah dana abadi atau endowment fund sudah dipraktikkan sebagai penopang pendidikan di Barat sejak 1502 M oleh Lady Margaret Beaufort dan Countess of Richmond di Universitas Oxford dan Cambridge. Wakaf di Barat hingga kini menjadi motor penggerak penting kemajuan pendidikan, terutama perguruan tinggi.
Lembaga akademis di Eropa dan Amerika Serikat menggunakan dana abadi untuk membiayai biaya operasional universitas. Selain itu, dana abadi juga digunakan untuk membiayai setiap lembaga yang ada di universitas, seperti pemberian beasiswa.
Baca Juga:Oxford University Berdiri Terinspirasi dari Kejayaan Wakaf Umat Islam
“Jadi, di mana-mana perguruan tinggi top dunia itu salah satu cirinya itu mempunyai endowment fund (dana abadi). Semua yang top-top dunia, yang panjenengan ketahui kan, Universitas Stanford di San Francisco, Universitas Oxford di Inggris, Universitas Harvard di Amerika Serikat. Cuma itu kan yang diketahui,” kata Mohammad Nuh kepada Langit7.id di Hotel Gran Melia Jakarta, Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022).
Jauh sebelum itu, kata Nuh, universitas pertama di dunia yakni Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko dibangun dengan sistem wakaf. Perguruan tinggi yang didirikan pada 857 M itu mempelopori pemanfaatan dana wakaf dalam memperkuat sistem pendidikan.
“Dari sisi sejarah, (universitas di Barat) itu kan berdiri 1600-an. Tahun 800, itu sudah ada universitas di Fez. Itu seluruh asetnya adalah wakaf, 100 tahun berikutnya berdiri Al Azhar, Kairo. Itu asetnya itu juga aset wakaf,” kata Nuh.
Wakaf atau yang bahasa umumnya adalah dana abadi atau endowment fund sudah dipraktikkan sebagai penopang pendidikan di Barat sejak 1502 M oleh Lady Margaret Beaufort dan Countess of Richmond di Universitas Oxford dan Cambridge. Wakaf di Barat hingga kini menjadi motor penggerak penting kemajuan pendidikan, terutama perguruan tinggi.
Lembaga akademis di Eropa dan Amerika Serikat menggunakan dana abadi untuk membiayai biaya operasional universitas. Selain itu, dana abadi juga digunakan untuk membiayai setiap lembaga yang ada di universitas, seperti pemberian beasiswa.
Baca Juga:Oxford University Berdiri Terinspirasi dari Kejayaan Wakaf Umat Islam
“Jadi, di mana-mana perguruan tinggi top dunia itu salah satu cirinya itu mempunyai endowment fund (dana abadi). Semua yang top-top dunia, yang panjenengan ketahui kan, Universitas Stanford di San Francisco, Universitas Oxford di Inggris, Universitas Harvard di Amerika Serikat. Cuma itu kan yang diketahui,” kata Mohammad Nuh kepada Langit7.id di Hotel Gran Melia Jakarta, Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022).
Jauh sebelum itu, kata Nuh, universitas pertama di dunia yakni Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko dibangun dengan sistem wakaf. Perguruan tinggi yang didirikan pada 857 M itu mempelopori pemanfaatan dana wakaf dalam memperkuat sistem pendidikan.
“Dari sisi sejarah, (universitas di Barat) itu kan berdiri 1600-an. Tahun 800, itu sudah ada universitas di Fez. Itu seluruh asetnya adalah wakaf, 100 tahun berikutnya berdiri Al Azhar, Kairo. Itu asetnya itu juga aset wakaf,” kata Nuh.