LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Pelaksana
Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, mengatakan, universitas-universitas tertua dan top dunia dibangun menggunakan sistem wakaf. Itu menjadi salah satu kunci universitas tersebut bertahan sampai sekarang.
Wakaf atau yang bahasa umumnya adalah dana abadi atau
endowment fund sudah dipraktikkan sebagai penopang pendidikan di Barat sejak 1502 M oleh Lady Margaret Beaufort dan Countess of Richmond di Universitas Oxford dan Cambridge. Wakaf di Barat hingga kini menjadi motor penggerak penting kemajuan pendidikan, terutama perguruan tinggi.
Lembaga akademis di Eropa dan Amerika Serikat menggunakan dana abadi untuk membiayai biaya operasional universitas. Selain itu, dana abadi juga digunakan untuk membiayai setiap lembaga yang ada di universitas, seperti pemberian beasiswa.
Baca Juga: Oxford University Berdiri Terinspirasi dari Kejayaan Wakaf Umat Islam
“Jadi, di mana-mana perguruan tinggi top dunia itu salah satu cirinya itu mempunyai
endowment fund (dana abadi). Semua yang top-top dunia, yang
panjenengan ketahui kan, Universitas Stanford di San Francisco, Universitas Oxford di Inggris, Universitas Harvard di Amerika Serikat. Cuma itu kan yang diketahui,” kata Mohammad Nuh kepada Langit7.id di Hotel Gran Melia Jakarta, Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022).
Jauh sebelum itu, kata Nuh, universitas pertama di dunia yakni Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko dibangun dengan sistem wakaf. Perguruan tinggi yang didirikan pada 857 M itu mempelopori pemanfaatan dana wakaf dalam memperkuat sistem pendidikan.
“Dari sisi sejarah, (universitas di Barat) itu kan berdiri 1600-an. Tahun 800, itu sudah ada universitas di Fez. Itu seluruh asetnya adalah wakaf, 100 tahun berikutnya berdiri Al Azhar, Kairo. Itu asetnya itu juga aset wakaf,” kata Nuh.
Baca Juga: Tak Hanya Bagus di Sepak Bola, Maroko Miliki Universitas Tertua di Dunia
Sistem wakaf itu, kata Muhammad Nuh, lalu ditiru oleh universitas di Barat meski mereka tidak menggunakan istilah wakaf. Pengelola perguruan tinggi di Barat menggunakan istilah
endowment fund. Meski beda istilah, kata Nuh, namun sistem pengelolaannya tetap sama.
“Itu ide dasarnya sudah ada. Cuma namanya diambil tidak menggunakan nama wakaf, Namanya diganti
endowment fund (dana abadi),” ujar Nuh.
Dia menjelaskan, esensi wakaf adalah keabadian. Dana wakaf yang dikumpulkan tidak bisa langsung dipakai, harus dikelola terlebih dahulu. Hasil dari olahan itulah yang bisa dipakai oleh
nazhir atau pengelola.
Baca Juga: Sistem Universitas Hari Ini Lahir dari Rahim Islam
“Mekanismenya itu mengumpulkan dana abadi. Tapi, kalau dana abadi itu tidak dikembangkan, diinvestasikan tidak dapat apa-apa. Apalagi kalau taruh di deposito, kena pajak, dan nilainya kecil,” ucap Nuh.
Upaya Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Memanfaatkan WakafGeliat perguruan tinggi di Indonesia dalam memanfaatkan wakaf juga sudah dimulai. Mohammad Nuh menyebut sudah ada dua perguruan tinggi di Tanah Air yakni Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sudah berwakaf. ITS berwakaf sebesar Rp50 miliar dan IPB sebesar Rp200 miliar kepada BWI.
Selain nominal wakaf sebesar Rp50 miliar, ITS juga berkomitmen berwakaf Rp20 miliar setiap tahun. Sementara, IPB yang memberikan dana wakaf sebesar Rp200 miliar merupakan dana wakaf terbesar yang pernah diterima BWI.
Baca Juga: IPB Kerja Sama dengan BWI Investasikan Rp200 Milyar di Sukuk Wakaf
“Dulu yang berwakaf itu pondok pesantren, tapi sekarang perguruan tinggi negeri pun berwakaf. Misalkan, ITS berwakaf 50 M, dan setiap tahun minimal 20 M, IPB 200 M. Insya Allah 2023, tembus 1 T dari perguruan tinggi. Kalau masing-masing saja 50 M, itu bisa mencapai 1 T. karena itu menjadi bagian dari dana abadi,” ujar Nuh.
(jqf)