LANGIT7.ID - Islam identik dengan ilmu pengetahuan. Itu bisa dilihat dari wahyu pertama dalam Al-Qur'an yang memerintahkan untuk menuntut ilmu. Sejarah peradaban Islam pun demikian, selalu identik dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Contoh konkret dalam masalah ini adalah keberadaan universitas. Universitas pertama yang berdiri di dunia adalah universitas Islam, yakni Universitas Al-Qarawiyyin didirikan pada 857-859 M di Maroko.
Jauh sebelum itu, umat Islam dari masa Rasulullah, Bani Abbasiyah di Baghdad, keturunan Bani Umayyah di Andalus menjadi pelopor intelektual dunia. Mereka menjadi kiblat ilmu pengetahuan, bahkan sampai saat ini.
Baca Juga: Oxford University Berdiri Terinspirasi dari Kejayaan Wakaf Umat Islam
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof Agus Purwanto (Gus Pur), mengatakan, universitas yang ada saat ini terlahir dari rahim Islam. Maka itu, semangat keilmuan yang dimiliki tokoh-tokoh muslim harus dilestarikan dan diteladani.
Gus Pur juga mengingatkan, selain ilmu agama, Islam juga menjunjung tinggi ilmu pengetahuan umum. Tradisi keilmuan umum dalam peradaban Islam tidak bisa disimpulkan berasal dari Yunani.
Penerjemahan naskah Yunani ke dalam bahasa Arab dimulai oleh Al-Kindi, ilmuwan muslim yang lahir pada 801 M. Namun jauh sebelum Al-Kindi, dunia Islam mempunya 3 ilmuwan besar di bidang ilmu pengetahuan umum.
Ada Ibnu Hayyan yang dikenal sebagai bapak Kimia, Al-Khawarizmi bapak aljabar yang namanya abadi dengan istilah algoritma, Al-Jahiz yang mengkaji 360-an hewan dan menuliskannya dalam kitab Al-Hayawaanat.
Baca Juga: Belajar Islam di Spanyol, Kala Muslim Jadi Ujung Tombak Peradaban
"Artinya, ilmu mereka bukan dari Yunani, tetapi dari pemahaman kitab suci yang di dalamnya banyak perintah untuk observasi dan memikirkannya," ucap Gus Pur, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Sabtu (31/12/2022).
Gus Pur lalu mengajak umat Islam mengubah mindset dari dasar konse besar, yakni Islam sebagai agama yang rahmatan lil-alamin. Dari konsep itu, maka mindset umat Islam harus memberi, tangan di atas produsen.
Sebab, kata Gus Pur, umat Islam saat ini berada di posisi sebagai konsumen, bukan produsen atas segala kemajuan teknologi. Umat Islam, terlebih di Indonesia 'rajin menyumbang' negara-negara yang memiliki teknologi maju dan kaya raya.
(jqf)