LANGIT7.ID, Jakarta - Menurut Duta Besar Indonesia untuk Spanyol, Muhammad Najib, Islam pada abad kedelapan silam di Andalus (Spanyol, Portugal, dan sekitarnya) memimpin penguasaan sains dan teknologi, termasuk Ilmu Kedokteran, astronomi, ekonomi, hukum, hingga seni.
Pada masa itu, Islam berhasil membangun peradaban yang sangat maju dan toleran. Kordoba sebagai pusat pemerintahan menjadi kota metropolitan dan yang maju di Eropa, karena sumbangannya di bidang ilmu pengetahuan.
Dalam catatan sejarawan Spanyol, pada masa kekuasaan Islam terdapat sekitar 700 masjid, 60 ribu kastil, dan 70 perpustakaan. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat banyak pelajar dan mahasiswa dari penjuru dunia menuntut Ilmu di Granada, Kordoba, Sevilla, dan Toledo.
Kordoba tidak hanya megah secara fisik melampaui kota-kota di kawasan Eropa masa itu, tapi juga gemerlap oleh banyaknya ilmuwan yang menguasai berbagai cabang ilmu. Mereka terus berkarya di pusat-pusat pendidikan, pusat riset, dan berbagai laboratorium.
Baca juga: Ma'ruf Amin Sebut Spanyol jadi Mitra Strategis IndonesiaKeunggulan ini mendorong dunia ekonomi dan tumbuhnya industri yang melahirkan berbagai produk unggulan yang diperlukan umat manusia. Maka itu, gaya hidup, selera makan, bentuk pakaian umat Islam, ditiru dan diikuti bangsa-bangsa lain.
“Masyarakat Spanyol saat ini memang sangat diwarnai oleh Islam dan Arab. Mereka belajar musik dari Islam. Sekolah musik pertama itu didirikan di Baghdad, kemudian di-
copy paste di Andalus,” kata Muhammad Najib dalam Kajian Ramadhan di kanal Wisma Duta RI Madrid, dikutip Rabu (20/4/2022).
Pada masa itu, Amerika dan Australia belum ada, sedangkan Eropa hidup dalam kemiskinan dan kebodohan. Bangsa Eropa menyebut era itu sebagai masa kegelapan. Pemuda-pemuda Eropa belajar ilmu sains, teknologi, ekonomi, maupun Ilmu sosial ke Kordoba dan Baghdad.
“Menariknya, mereka belajar dari Islam dan mengembangkan apa yang mereka dapatkan seperti sains dan teknologi, termasuk ilmu-ilmu ekonomi, sosial, dan seni,” ucap Muhammad Najib.
Setelah kembali ke negerinya, mereka yang menjadi pelopor menetang gereja yang dinilai menghambat kemajuan Barat. Puncak gerakan itu ditandai dengan Revolusi Industri di Inggris pada 1760 dan revolusi politik di Perancis pada 1789. Peristiwa ini menandai awal kebangkitan Barat yang terus berkembang sampai sekarang.
“Itu mengantarkan bangsa Barat ke masa kejayaannya, sampai mengalahkan umat Islam, sampai menaklukkan dunia dalam bentuk penjajahan. Sampai sekarang, bangsa Barat memiliki keunggulan-keungulan tersendiri,” kata Muhammad Najib.
Belajar dari penggalan sejarah tersebut, saatnya umat Islam kini bangkit dari ketertinggalan. Umat Islam harus kembali menguasai sains dan teknologi sebagai bekal menguasai peradaban modern.
Baca juga: Melongok Jejak Kejayaan Islam di SpanyolNajib menjelaskan, menuntut ilmu dalam Islam merupakan ibadah. Banyak teks Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Di antaranya Surah Ali Imran ayat 190 dan Surah Al-Ghasyiyah ayat 17-20.
“
Afala ta’kilun (apakah kalian tidak berakal?) atau
afala tatafakkarun (apakah kalian tidak berfikir?). Ayat ini menunjukkan Islam sangat menjunjung tinggi akal dan fikiran manusia. Demikian begitu, penggunaan akal dan pikiran memiliki posisi sangat penting dalam implemenbtasi ajaran Islam.
“Mari kita kembangkan Islam yang
rahmatan lil alamin, karena begitulah sejatinya ajaran Islam kalau kita merujuk kepada Rasulullah,” tutur Muhammad Najib.
(jqf)