Tegakkan Keadilan dan Jalankan Perintah Agama, Alasan Pejuang Lawan Penjajah
Muhajirin
Sabtu, 21 Agustus 2021 - 16:00 WIB
Ir Soekarno dan para pejuang kemerdekaan (foto: perpusnas.go.id)
Sejarawan Muslim, Dr. Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan, ada dua motif tokoh nasional pada abad ke-19 melawan kolonialisme, yakni motif ketidakadilan dan perintah agama. Jika hanya mencari keuntungan harta, tidak perlu melawan penjajah, cukup menjadi mitra dan pasti akan hidup nyaman.
“Jadi, yang disebut dengan kemerdekaan itu adalah bukan merdeka dari asing, tapi merdeka dari kezaliman. Maka kalau sekarang terjadi kezaliman lagi, penjajahan itu balik lagi. Maka itu, kita harus melihat kemerdekaan jangan secara nominal, tapi secara quality,” kata Tiar.
Selain semangat melawan ketidakadilan, para pejuang juga bergerak atas dorongan agama. Ideologi jihad fisabilillah menjadi motor penggerak. Ideologi itu menghiasi wacana para pejuang dalam melawan kolonialisme.
“Ideologi jihad itu menjadi sesuatu yang sangat fundamental. Agama menjadi landasan atas keberanian orang-orang untuk tampil melawan kezaliman. Maka, kalau kita mengabaikan faktor agama dalam konstruksi kebangsaan kita, ini adalah adalah konstruksi yang ahistrois. Ini akan membuat nasionalisme Indonesia pincang, karena memang yang menjadi motif utama dalam melawan penjajahan adalah agama,” ucap Tiar.
Bukti Agama Menjadi Motif Utama Melawan Kolonialisme
Agama menjadi motif utama melawan kolonialisme bisa ditemukan dalam berbagai catatan sejarah. Misalnya dalam sidang BPUPKI saat hendak membuat Undang-Undang Dasar 1945. Tokoh paling berani mengusulkan bentuk negara adalah umat Islam. Mereka mengusulkan dasar negara adalah Islam.
“Jadi, yang disebut dengan kemerdekaan itu adalah bukan merdeka dari asing, tapi merdeka dari kezaliman. Maka kalau sekarang terjadi kezaliman lagi, penjajahan itu balik lagi. Maka itu, kita harus melihat kemerdekaan jangan secara nominal, tapi secara quality,” kata Tiar.
Selain semangat melawan ketidakadilan, para pejuang juga bergerak atas dorongan agama. Ideologi jihad fisabilillah menjadi motor penggerak. Ideologi itu menghiasi wacana para pejuang dalam melawan kolonialisme.
“Ideologi jihad itu menjadi sesuatu yang sangat fundamental. Agama menjadi landasan atas keberanian orang-orang untuk tampil melawan kezaliman. Maka, kalau kita mengabaikan faktor agama dalam konstruksi kebangsaan kita, ini adalah adalah konstruksi yang ahistrois. Ini akan membuat nasionalisme Indonesia pincang, karena memang yang menjadi motif utama dalam melawan penjajahan adalah agama,” ucap Tiar.
Bukti Agama Menjadi Motif Utama Melawan Kolonialisme
Agama menjadi motif utama melawan kolonialisme bisa ditemukan dalam berbagai catatan sejarah. Misalnya dalam sidang BPUPKI saat hendak membuat Undang-Undang Dasar 1945. Tokoh paling berani mengusulkan bentuk negara adalah umat Islam. Mereka mengusulkan dasar negara adalah Islam.