LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarawan Muslim, Dr. Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan, ada dua motif tokoh nasional pada abad ke-19 melawan kolonialisme, yakni motif ketidakadilan dan perintah agama. Jika hanya mencari keuntungan harta, tidak perlu melawan penjajah, cukup menjadi mitra dan pasti akan hidup nyaman.
“Jadi, yang disebut dengan kemerdekaan itu adalah bukan merdeka dari asing, tapi merdeka dari kezaliman. Maka kalau sekarang terjadi kezaliman lagi, penjajahan itu balik lagi. Maka itu, kita harus melihat kemerdekaan jangan secara nominal, tapi secara quality,” kata Tiar.
Selain semangat melawan ketidakadilan, para pejuang juga bergerak atas dorongan agama. Ideologi jihad fisabilillah menjadi motor penggerak. Ideologi itu menghiasi wacana para pejuang dalam melawan kolonialisme.
“Ideologi jihad itu menjadi sesuatu yang sangat fundamental. Agama menjadi landasan atas keberanian orang-orang untuk tampil melawan kezaliman. Maka, kalau kita mengabaikan faktor agama dalam konstruksi kebangsaan kita, ini adalah adalah konstruksi yang ahistrois. Ini akan membuat nasionalisme Indonesia pincang, karena memang yang menjadi motif utama dalam melawan penjajahan adalah agama,” ucap Tiar.
Bukti Agama Menjadi Motif Utama Melawan KolonialismeAgama menjadi motif utama melawan kolonialisme bisa ditemukan dalam berbagai catatan sejarah. Misalnya dalam sidang BPUPKI saat hendak membuat Undang-Undang Dasar 1945. Tokoh paling berani mengusulkan bentuk negara adalah umat Islam. Mereka mengusulkan dasar negara adalah Islam.
Demikian pula dalam Konstituante. Para pendiri bangsa mengusulkan agar dasar pembentukan negara adalah Islam. Seandainya umat Islam tidak punya jasa besar dan Islam bukan dasar bagi konstruksi kebangsaan Indonesia, maka tidak mungkin tokoh muslim mengusulkan Islam sebagai dasar negara.
“Padahal pada zaman itu agama sudah banyak, ada Kristen, ada budha. Kenapa yang lain tidak berani? ini yang ditutup-tutupi dalam sejarah, bahwa usulan supaya Indonesia menjadi negara Islam itu datang dari para pendiri negara ini,” ucap Tiar.
Indonesia tidak membangun nasionalisme di atas ras. Tidak ada satupun orang yang berani mengatakan Indonesia adalah Jawa, Sunda, Batak, Bugis, atau Minang. Semua sepakat dengan kebangsaan yang sudah dikonstruksi oleh para pendiri bangsa.
“Jadi umat Islam, tidak usah ragu, bahwa cara kita memperkuat nasionalisme adalah dengan menghidupkan agama. Maka kata Pak Nasir, kalau negara mau kokoh laksanakan Islam secara kaffah,” pungkas Tiar.
(jqf)