Co-Parenting, Kolaborasi Pendidikan Antara Rumah dan Sekolah
Muhajirin
Selasa, 13 Desember 2022 - 14:10 WIB
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Psikolog Adriano Rusfi menjelaskan, sekolah dan rumah memiliki peran dam fungsi yang berbeda dalam pendidikan anak. Keduanya harus berkolaborasi dalam kerangka yang disebut Co-Parenting. Rumah atau orang tua harus tetap menjadi poros utama dalam mendidik anak, sementara sekolah berstatus sebagai pembantu pendidikan.
“Orang tua harus sadari posisi sekolah itu, agar kita tidak membebani sekolah dengan beban berlebihan atas segala sesuatu yang memang bukan kompetensi mereka. Sekolah itu hanya lembaga pengajaran, bukan lembaga pendidikan,” kata Adriano dalam webinar Kolaborasi Rumah dan Sekolah Dalam Pendidikan Anak yang digelar Sekolah Alam Indonesia (SAI), Sabtu (10/12/2022).
Sekolah lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat pengetahuan dan keterampilan. Sekolah tidak bisa menumbuhkan karakter. Pembentukan karakter harus dilakukan di rumah, karena karakter memang dididik bukan diajarkan.
Baca Juga: Guru Besar ITS: Tak Sebatas Sekolah Formal, Keluarga Harus Jadi Satuan Pendidikan
“Peran pendidikan ini harus dilakoni orang tua di rumah. Sekolah hanya mampu membentuk pengetahuan dan keterampilan, bukan karakter dan kepribadian,” ujar Adriano.
“Orang tua harus sadari posisi sekolah itu, agar kita tidak membebani sekolah dengan beban berlebihan atas segala sesuatu yang memang bukan kompetensi mereka. Sekolah itu hanya lembaga pengajaran, bukan lembaga pendidikan,” kata Adriano dalam webinar Kolaborasi Rumah dan Sekolah Dalam Pendidikan Anak yang digelar Sekolah Alam Indonesia (SAI), Sabtu (10/12/2022).
Sekolah lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat pengetahuan dan keterampilan. Sekolah tidak bisa menumbuhkan karakter. Pembentukan karakter harus dilakukan di rumah, karena karakter memang dididik bukan diajarkan.
Baca Juga: Guru Besar ITS: Tak Sebatas Sekolah Formal, Keluarga Harus Jadi Satuan Pendidikan
“Peran pendidikan ini harus dilakoni orang tua di rumah. Sekolah hanya mampu membentuk pengetahuan dan keterampilan, bukan karakter dan kepribadian,” ujar Adriano.