Pesantren Pusat Pendidikan Calon Pemimpin, Jebolan Pondok Banyak Jadi Pejabat
Muhajirin
Ahad, 22 Agustus 2021 - 11:55 WIB
Kegiatan bansos untuk ponpos di Ambon. (Foto: Antara).
Pondok pesantren dinilai menjadi pusat pendidikan calon pemimpin bangsa. Sebab jebolan pondok banyak yang kini menjadi pejabat di pemerintahan, TNI dan Polri.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Suffah Hizbullah Leihitu Maluku, Ustadz Komaruddin Umbara mengatakan, pesantren merupakan pusat pendidikan anak bangsa, dan selama sudah banyak alumni pesantren mengabdi untuk bangsa dan negara.
"Ponpes ini berdiri sejak tahun 1999 dan masih banyak yang perlu dibenahi sehingga diharapkan kepada Pemkot Ambon dan Pemkab Maluku Tengah bisa melihat kesejahteraan kami," kata Komaruddin Umbara di Ambon, Sabtu (21/8/2021).
Baca Juga: Tren Digital Berpotensi Jadikan Pondok Pesantren Lebih Mandiri
Ponpes Zuffah Hizbullah di Kecamatan Leihitu ini didirikan oleh Arsyad Rehawarin dan Syarifudin bin Arsyad, yang memimpin sampai tahun 2006 dan setelah meninggal dunia kemudian digantikan oleh Komarudin Umbara.
Pendidikan yang diterapkan mulai dari tingkat TK, SD, madrasah tsanawiyah (Mts) hingga madrasah aliyah (MA) atau setingkat SMA, dan juga ada program penghafal Al Quran. Untuk tenaga pengajar secara internal delapan orang ditambah dari sekitar Leihitum, totalnya 20 orang.
"Ada 250 orang dari MA dan MTs, kemudian santri yang tinggal di asrama 100 orang berasal dari latar belakang berbeda, seperti anak yatim dan piatu hingga yang memiliki orang tua dengan kemampuan ekonomi," katanya.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Suffah Hizbullah Leihitu Maluku, Ustadz Komaruddin Umbara mengatakan, pesantren merupakan pusat pendidikan anak bangsa, dan selama sudah banyak alumni pesantren mengabdi untuk bangsa dan negara.
"Ponpes ini berdiri sejak tahun 1999 dan masih banyak yang perlu dibenahi sehingga diharapkan kepada Pemkot Ambon dan Pemkab Maluku Tengah bisa melihat kesejahteraan kami," kata Komaruddin Umbara di Ambon, Sabtu (21/8/2021).
Baca Juga: Tren Digital Berpotensi Jadikan Pondok Pesantren Lebih Mandiri
Ponpes Zuffah Hizbullah di Kecamatan Leihitu ini didirikan oleh Arsyad Rehawarin dan Syarifudin bin Arsyad, yang memimpin sampai tahun 2006 dan setelah meninggal dunia kemudian digantikan oleh Komarudin Umbara.
Pendidikan yang diterapkan mulai dari tingkat TK, SD, madrasah tsanawiyah (Mts) hingga madrasah aliyah (MA) atau setingkat SMA, dan juga ada program penghafal Al Quran. Untuk tenaga pengajar secara internal delapan orang ditambah dari sekitar Leihitum, totalnya 20 orang.
"Ada 250 orang dari MA dan MTs, kemudian santri yang tinggal di asrama 100 orang berasal dari latar belakang berbeda, seperti anak yatim dan piatu hingga yang memiliki orang tua dengan kemampuan ekonomi," katanya.