Alissa Wahid: Hari Ibu Harus Dimaknai Hari Perjuangan Perempuan
Muhajirin
Kamis, 22 Desember 2022 - 17:20 WIB
Ketua PBNU Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (foto: gusdurian.net)
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, memaknai Hari Ibu sebagai momen mengingat perjuanganperempuan Indonesia. Itu tak lepas dari sejarah Hari Ibu yang dilatarbelakangi Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928.
“Hari ibu adalah hari ketika perempuan-perempuan Indonesia memutuskan untuk memperjuangkan nasib perempuan Indonesia. Karena itu, Hari Ibu harus dimaknai sebagai hari perjuangan perempuan, bukan hanya sebatas hari untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu kita,” kata Alissa Wahid kepada Langit7, Kamis (22/12/2022).
Tentu saja, kata dia, setiap ibu yang sehat akan memperjuangkan kesejahteraan anak dan keluarganya. Bukan hanya dalam skala keluarga kecil dan keluarga besar, tapi dalam lingkup yang lebih besar yakni masyarakat.
Baca Juga: Sarat Nilai Perjuangan, Hari Ibu di Indonesia Beda dengan Versi Barat
“Itu yang membuat spirit Hari Ibu sebagai hari untuk mengucapkan terima kasih kepada para ibu, tetap relevan,” kata putri sulung Gus Dur itu.
“Hari ibu adalah hari ketika perempuan-perempuan Indonesia memutuskan untuk memperjuangkan nasib perempuan Indonesia. Karena itu, Hari Ibu harus dimaknai sebagai hari perjuangan perempuan, bukan hanya sebatas hari untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu kita,” kata Alissa Wahid kepada Langit7, Kamis (22/12/2022).
Tentu saja, kata dia, setiap ibu yang sehat akan memperjuangkan kesejahteraan anak dan keluarganya. Bukan hanya dalam skala keluarga kecil dan keluarga besar, tapi dalam lingkup yang lebih besar yakni masyarakat.
Baca Juga: Sarat Nilai Perjuangan, Hari Ibu di Indonesia Beda dengan Versi Barat
“Itu yang membuat spirit Hari Ibu sebagai hari untuk mengucapkan terima kasih kepada para ibu, tetap relevan,” kata putri sulung Gus Dur itu.