Kesalahan soal Insecure, Sering Gunakan Istilah di Luar Konteks
Mahmuda attar hussein
Ahad, 25 Desember 2022 - 17:25 WIB
Kesalahan soal Insecure, Sering Gunakan Istilah di Luar Konteks. (Foto: Istimewa).
Masih banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah terkait insecure. Kesalahan itu karena mereka menggunakan istilah terkait insecure di luar konteksnya.
Ada banyak istilah yang digunakan tidak tepat pada konteksnya. Mereka biasanya dialami dan dilakukan oleh remaja zaman sekarang.
Psikolog Olphi Disya Arinda mengatakan, remaja biasanya insecure terkait hal akademik, penampilan, keuangan dan pergaulan. Sebab, beberapa hal itu cukup penting bagi remaja.
"Remaja sekarang sedikit-sedikit bilang masalah kesehatan mental. Itu karena bahwa kesadaran terkait kesehatan mental semakin meningkat," kata dia dalam Webinar BSI Maslahat: Stop Being Insecure yang diikuti Langit7, Ahad (25/12/2022).
Baca Juga: 4 Alasan Orang Jadi Insecure, Dampaknya Cukup Miris
Menurutnya, insecure rasa ragu-ragu atau kecemasan terhadap diri sendiri. Kepekaan mereka itulah yang pada akhirnya membuat mereka lebih peduli dengan masalah kesehatan mental.
"Sehingga untuk mengatasinya, mereka mencari sumber referensi melalui buku, akun media sosial terkait, atau bahkan hingga ke psikiater atau psikolog," katanya.
Ada banyak istilah yang digunakan tidak tepat pada konteksnya. Mereka biasanya dialami dan dilakukan oleh remaja zaman sekarang.
Psikolog Olphi Disya Arinda mengatakan, remaja biasanya insecure terkait hal akademik, penampilan, keuangan dan pergaulan. Sebab, beberapa hal itu cukup penting bagi remaja.
"Remaja sekarang sedikit-sedikit bilang masalah kesehatan mental. Itu karena bahwa kesadaran terkait kesehatan mental semakin meningkat," kata dia dalam Webinar BSI Maslahat: Stop Being Insecure yang diikuti Langit7, Ahad (25/12/2022).
Baca Juga: 4 Alasan Orang Jadi Insecure, Dampaknya Cukup Miris
Menurutnya, insecure rasa ragu-ragu atau kecemasan terhadap diri sendiri. Kepekaan mereka itulah yang pada akhirnya membuat mereka lebih peduli dengan masalah kesehatan mental.
"Sehingga untuk mengatasinya, mereka mencari sumber referensi melalui buku, akun media sosial terkait, atau bahkan hingga ke psikiater atau psikolog," katanya.