LANGIT7.ID, Jakarta - Masih banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah terkait
insecure. Kesalahan itu karena mereka menggunakan istilah terkait insecure di luar konteksnya.
Ada banyak istilah yang digunakan tidak tepat pada konteksnya. Mereka biasanya dialami dan dilakukan oleh remaja zaman sekarang.
Psikolog Olphi Disya Arinda mengatakan, remaja biasanya insecure terkait hal akademik, penampilan, keuangan dan pergaulan. Sebab, beberapa hal itu cukup penting bagi remaja.
"Remaja sekarang sedikit-sedikit bilang masalah kesehatan mental. Itu karena bahwa kesadaran terkait kesehatan mental semakin meningkat," kata dia dalam
Webinar BSI Maslahat: Stop Being Insecure yang diikuti
Langit7, Ahad (25/12/2022).
Baca Juga: 4 Alasan Orang Jadi Insecure, Dampaknya Cukup MirisMenurutnya, insecure rasa ragu-ragu atau kecemasan terhadap diri sendiri. Kepekaan mereka itulah yang pada akhirnya membuat mereka lebih peduli dengan masalah kesehatan mental.
"Sehingga untuk mengatasinya, mereka mencari sumber referensi melalui buku, akun media sosial terkait, atau bahkan hingga ke psikiater atau psikolog," katanya.
Para remaja ini, lanjut dia, ingin meningkatkan kualitas diri mereka. Di mana remaja saat ini tidak mau insecure karena alasan yang tidak jelas.
Kesalahan Remaja Terkait Masalah MentalNamun di sisi lain, meski kesadaran akan kesehatan mental tampak baik, tetap ada risiko yang menyertainya. Di antaranya sebagai berikut:
1. Self DiangnosisCEO Alpas.id ini mengungkapkan, remaja masih sering melakukan self diagnosis terkait kesehatan mental yang dialaminya.
Remaja zaman sekarang sangat mudah mengklaim depresi, tanpa konsultasi ke pakar atau ahlinya, seperti psikolog atau psikiater. Hal ini sebetulnya cukup berlebihan dan berbahaya.
Menurutnya, remaja perlu mawas diri untuk mengetahui hal yang tengah dirasakan tanpa harus melabelinya atau mendiagnosa terkait masalah kesehatan mental.
"Jadi hindari googling, terkait keresahan diri, karena informasinya belum tentu tepat dengan kondisi yang dialami," ungkapnya.
Dia menganjurkan bagi orang yang mengalami masalah mental, terutama remaja untuk berkonsultasi kepada ahlinya. Terutama bagi mereka yang ingin mengetahui kondisi kesehatan mentalnya lebih lanjut.
2. No Action Talk Only (NATO)Di sini remaja hanya membahas isu-isu kesehatan mental yang dialaminya, tapi tanpa dibarengi dengan kemauan untuk berkonsultasi.
Padahal, konsultasi tidak hanya bisa dilakukan kepada profesional, tapi juga curhat kepada orang-orang terdekat. Hal ini lebih baik dilakukan ketimbang memendam perasaan emosi berlebih seorang diri.
"NATO juga termasuk mereka yang seringkali menyalahkan keadaan yang tengah dialaminya," katanya.
3. MisusedMisused adalah kesalahan terkait penempatan istilah-istilah dalam isu kesehatan mental. Seperti istilah toxic, healing yang cukup populer digunakan saat ini.
Banyak remaja yang menganggap istilah tersebut wajar untuk diungkapkan. Padahal istilah itu belum tentu sesuai dengan konteks yang dimaksudkan.
"Seperti orang tua menasihati anaknya, lantas si anak justru menganggap orang tuanya toxic dalam mendidik mereka. Ini kekeliruan dan tidak tepat untuk dilakukan," katanya.
Walaupun ada rasa nyaman dalam diri ketika orang tua memberi nasihat, itu bukan berarti orang tua menggunakan cara toxic dalam mendidik anaknya.
"Jadi sebaiknya tidak menggunakan istilah populer tapi belum mengetahui makna sebenarnya," tambahnya.
(bal)