Penjelasan BMKG soal Potensi Badai Dahsyat Melanda Jabodetabek
Fajar adhitya
Selasa, 27 Desember 2022 - 23:35 WIB
Kondisi siklon tropis. Foto: Langit7/iStock
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menanggapi pernyataan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi hujan ekstrem dan badai dahsyat di wilayah Jabodetabek. BMKG menyatakan istilah 'badai' ini terkait dengan Siklan Tropis dengan pusaran yang kencang dan disertai hujan lebat.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, badai itu berpotensi menjauh dari Jabodetabek dan bergeser ke wilayah Utara Papua. Sementara, proses terbentuknya siklon tropis ini terjadi sejak 21 Desember 2022 dan kemungkinan akan bergeser ke bagian selatan barat Indonesia dan semakin jauh dari Jabodetabek.
"Itu yang dimaksud dengan badai sesungguhnya," ujar Dwikorita dalam konferensi pers daring, Selasa (27/12/2022).
Baca Juga:Potensi Badai di Jabodetabek, Puan Ingatkan Pentingnya Mitigasi Bencana
Sejak tanggal 21 Desember 2022, BMKG telah mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam sepekan hingga tanggal 01 Januari 2023. Informasi rilis tersebut berkaitan dengan adanya signifikansi dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan potensi hujan ekstrem selama periode Nataru 2022/2023.
"Berdasarkan analisis cuaca terkini, kondisi dinamika atmosfer di sekitar Indonesia masih berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dalam sepekan kedepan," kata Dwikorita.
Kondisi dinamika atmosfer yang dapat memicu hujan ekstrem tersebut antara lain Monsun Asia yang menunjukkan aktivitas cukup signifikan beberapa hari terakhir. Hal ini juga berpotensi disertai seruakan dingin dan fenomena aliran lintas ekuator yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, badai itu berpotensi menjauh dari Jabodetabek dan bergeser ke wilayah Utara Papua. Sementara, proses terbentuknya siklon tropis ini terjadi sejak 21 Desember 2022 dan kemungkinan akan bergeser ke bagian selatan barat Indonesia dan semakin jauh dari Jabodetabek.
"Itu yang dimaksud dengan badai sesungguhnya," ujar Dwikorita dalam konferensi pers daring, Selasa (27/12/2022).
Baca Juga:Potensi Badai di Jabodetabek, Puan Ingatkan Pentingnya Mitigasi Bencana
Sejak tanggal 21 Desember 2022, BMKG telah mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam sepekan hingga tanggal 01 Januari 2023. Informasi rilis tersebut berkaitan dengan adanya signifikansi dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan potensi hujan ekstrem selama periode Nataru 2022/2023.
"Berdasarkan analisis cuaca terkini, kondisi dinamika atmosfer di sekitar Indonesia masih berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dalam sepekan kedepan," kata Dwikorita.
Kondisi dinamika atmosfer yang dapat memicu hujan ekstrem tersebut antara lain Monsun Asia yang menunjukkan aktivitas cukup signifikan beberapa hari terakhir. Hal ini juga berpotensi disertai seruakan dingin dan fenomena aliran lintas ekuator yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.