Dari total 699 zona musim di Indonesia, sebanyak 119 zona musim atau 17 persen diprediksi memasuki musim kemarau pada April 2023, yakni di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa Timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem di Jawa Tengah (Jateng) yang masih tinggi pascabanjir yang melanda Semarang.
Dampak yang dapat terjadi berupa volume aliran sungai berpotensi meningkat drastis, sehingga mengakibatkan potensi banjir dan banjir bandang. Selain itu, hujan lebat mengakibatkan potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah.
BMKG merilis 14 wilayah di Indonesia yang berpotensi siaga cuaca ekstrem. BMKG pun meminta masyarakat mewaspadai risiko terjadinya bencana hidrometeorologi di akhir tahun 2022.
BMKG menyatakan istilah 'badai' ini terkait dengan Siklan Tropis dengan pusaran yang kencang dan disertai hujan lebat. Badai itu berpotensi menjauh dari Jabodetabek dan bergeser ke wilayah Utara Papua.
BMKG menyampaikan potensi cuaca ekstrem saat Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kondisi ini harus diwaspadai masyarakat yang bepergian atau mudik saat akhir tahun.
Memasuki puncak musim penghujan, BMKG mengimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat mewaspadai kemungkinan bencana alam. Di antaranya longsor dan banjir bandang yang membawa material-material reruntuhan lereng akibat gempa.
Dwikorita memprediksi potensi curah hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada periode 15 hingga 21 Oktober. Hujan diperkirakan terjadi di 24 provinsi.
Alat AWOS ini dilengkapi sejumlah sensor seperti sensor suhu-kelembaban, sensor tekanan, sensor curah hujan, sensor arah serta kecepatan angin dan sensor radiasi matahari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya ancaman lanjutan usai guncangan gempa magnitudo 6.2 yang terjadi Jumat, (26/2) di Pasaman, Jawa Barat.