LANGIT7.ID, Jakarta -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia hingga 30 Desember 2022. Cuaca ekstrem tersebut dapat menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, genangan, dan tanah longsor.
Menurut Kepala BMKG,
Dwikorita Karnawati, berdasarkan prakiraan berbasis dampak Impact-Based Forecast (IBF), ada tujuh daerah yang ditetapkan berstatus siaga pada periode tanggal tersebut. Di antaranya Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT.
"Wilayah tersebut diprakirakan dapat mengalami hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi," ujar Dwikorita di Jakarta dalam keterangannya, dikutip Kamis (29/12/2022).
Baca Juga: Potensi Badai di Jabodetabek, BPBD DKI Siapkan 2 Pola Modifikasi CuacaAdapun dampak yang dapat terjadi berupa volume aliran sungai berpotensi meningkat drastis, sehingga mengakibatkan potensi banjir dan banjir bandang. Selain itu, hujan lebat mengakibatkan potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah, terutama di daerah-daerah dataran tinggi dan lereng-lereng perbukitan serta gunung.
BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai dan wilayah perbukitan untuk waspada dan meningkatkan kesiap-siagaan. Terutama jika hujan lebat terjadi dalam intensitas cukup lama.
"Mohon kepada masyarakat untuk berhati-hati jika beraktivitas di luar rumah. Jika tidak ada keperluan mendesak, maka sebaiknya di rumah saja menunggu cuaca kembali normal," ucap Dwikorita.
Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menuturkan,
cuaca ekstrem dipicu aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer di sekitar wilayah Indonesia. Sehingga berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan.
Baca Juga: Awas, Bencana Hidrometeorologi Mengintai Sejumlah Wilayah Imbas Cuaca EkstremFenomena tersebut seperti peningkatan aktifitas Monsun Asia yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
"Meningkatnya intensitas fenomena '
cold surge' atau seruakan dingin yang disertai dengan potensi arus lintas ekuatorial. Sehingga aliran massa udara dingin dari Asia memasuki wilayah Indonesia juga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah," kata Guswanto.
Pada dinamika atmosfer lainnya, ada indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif. Hal ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi, peningkatan kecepatan angin permukaan, serta gelombang tinggi di perairan sekitarnya.
Fenomena lainnya yang signifikan adalah Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif bersamaan dengan gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial. Kondisi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan.
"Kepada masyarakat, kami imbau untuk tidak panik tetapi tetap waspada, dan terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG. Pangkas dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang," tutur Guswanto.
Baca Juga:
Beda Prediksi Cuaca BMKG dan BRIN, Legislator Dorong Informasi Satu Pintu
Beda dengan BRIN, BMKG Sebut Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Bukan Badai(gar)