Pesantren Muhammadiyah Pelopor Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum
Muhajirin
Senin, 23 Januari 2023 - 06:10 WIB
Santri Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan (Dok Darul Arqam Gombara)
Pesantren Muhammadiyah merupakan representasi gerakan modern dan gerakan tajdid. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan, tajdid memiliki dua pengertian yakni purifikasi dalam persoalan ibadah dan akidah serta dinamisasi dalam persoalan kehidupan duniawi.
Dengan dua pengertian tersebut, selain mengenalkan paham Islam yang pertengahan dan proporsional, Muhammadiyah juga berhasil menanamkan etos berpikir maju. Etos berpikir maju itu diaktualisasikan secara nyata dalam lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
Menurut Haedar, pesantren merupakan bagian dari tradisi besar yang dijalankan Muhammadiyah. Maka itu, pesantren tidak hanya identik dengan kelompok tradisionalis, tapi juga kelompok modernis. Muhammadiyah mengelola pesantren dengan mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum.
Baca Juga: Haedar Nashir Dorong Muallimin Muhammadiyah Jadi Model Pendidikan Islam
"Sebelum gerakan Muhammadiyah eksis di negeri ini, pesantren umumnya dimaknai sebagai tempat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan cenderung resisten dengan pendidikan modern,” kata Haedar, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (23/1/2023).
Dengan dua pengertian tersebut, selain mengenalkan paham Islam yang pertengahan dan proporsional, Muhammadiyah juga berhasil menanamkan etos berpikir maju. Etos berpikir maju itu diaktualisasikan secara nyata dalam lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
Menurut Haedar, pesantren merupakan bagian dari tradisi besar yang dijalankan Muhammadiyah. Maka itu, pesantren tidak hanya identik dengan kelompok tradisionalis, tapi juga kelompok modernis. Muhammadiyah mengelola pesantren dengan mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum.
Baca Juga: Haedar Nashir Dorong Muallimin Muhammadiyah Jadi Model Pendidikan Islam
"Sebelum gerakan Muhammadiyah eksis di negeri ini, pesantren umumnya dimaknai sebagai tempat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan cenderung resisten dengan pendidikan modern,” kata Haedar, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (23/1/2023).