Cara Mencapai Kebahagiaan Sejati Menurut Seyyed Hossein Nashr
Fajar adhitya
Selasa, 24 Januari 2023 - 22:30 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan biasanya berkaitan erat dengan terpenuhinya pencapaian hidup yang bersifat jasmani maupun rohani.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir maupun batin. Kebahagiaan biasanya diasosiasikan dengan kesehatan, kekayaan, kesenangan diri atau kekuasaan.
Pada sisi lain, ada juga yang merujuk kebahagiaan dengan terkabulnya doa, kinerja yang baik, ketika melihat keindahan, dan pencapaian pengetahuan. Namun, dalam Islam, ukuran kebahagiaan jauh melampaui ruang dan waktu.
Baca Juga:Beriman dan Beramal Saleh, Dua Syarat Utama Raih Kebahagiaan
Menurut Seyyed Hossein Nashr, apa yang dianggap sebagai kebahagiaan sejati, dan bagaimana kebahagiaan sejati dicapai, sangat dipengaruhi oleh weltanschauung (world view) dari masing-masing budaya. Termasuk dalam Islam sebagai agama, world view, cara hidup, dan berkebudayaan.
Mengutip Kebahagiaan Dan Pencapaian Kebahagiaan: Perspektif Islam, Selasa (24/1/2023), Seyyed Hossein Nashr menyatakan, bahwa kebahagiaan duniawi bersifat temporer sebagaimana yang dirayakan dalam budaya modern, sekuler, dan hedonistik. Sebaliknya, pengejaran kebahagiaan dalam pemikiran Islam justru berkaitan dengan pencapaian di kehidupan akhir.
Dalam bahasa Arab, frasa "mencapai (attainment of) kebahagiaan" (tahsil al-sa'ādah), sebenarnya merupakan judul karya terkenal filsuf Islam Abu Nasr al-Färäbi. Sedangkan frasa "mengejar (pursuit of) kebahagiaan" lebih jarang digunakan dan tidak memiliki resonansi yang sama dalam bahasa Arab seperti dalam bahasa Inggris.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir maupun batin. Kebahagiaan biasanya diasosiasikan dengan kesehatan, kekayaan, kesenangan diri atau kekuasaan.
Pada sisi lain, ada juga yang merujuk kebahagiaan dengan terkabulnya doa, kinerja yang baik, ketika melihat keindahan, dan pencapaian pengetahuan. Namun, dalam Islam, ukuran kebahagiaan jauh melampaui ruang dan waktu.
Baca Juga:Beriman dan Beramal Saleh, Dua Syarat Utama Raih Kebahagiaan
Menurut Seyyed Hossein Nashr, apa yang dianggap sebagai kebahagiaan sejati, dan bagaimana kebahagiaan sejati dicapai, sangat dipengaruhi oleh weltanschauung (world view) dari masing-masing budaya. Termasuk dalam Islam sebagai agama, world view, cara hidup, dan berkebudayaan.
Mengutip Kebahagiaan Dan Pencapaian Kebahagiaan: Perspektif Islam, Selasa (24/1/2023), Seyyed Hossein Nashr menyatakan, bahwa kebahagiaan duniawi bersifat temporer sebagaimana yang dirayakan dalam budaya modern, sekuler, dan hedonistik. Sebaliknya, pengejaran kebahagiaan dalam pemikiran Islam justru berkaitan dengan pencapaian di kehidupan akhir.
Dalam bahasa Arab, frasa "mencapai (attainment of) kebahagiaan" (tahsil al-sa'ādah), sebenarnya merupakan judul karya terkenal filsuf Islam Abu Nasr al-Färäbi. Sedangkan frasa "mengejar (pursuit of) kebahagiaan" lebih jarang digunakan dan tidak memiliki resonansi yang sama dalam bahasa Arab seperti dalam bahasa Inggris.