LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap manusia menginginkan
kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan biasanya berkaitan erat dengan terpenuhinya pencapaian hidup yang bersifat jasmani maupun rohani.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir maupun batin. Kebahagiaan biasanya diasosiasikan dengan kesehatan, kekayaan, kesenangan diri atau kekuasaan.
Pada sisi lain, ada juga yang merujuk kebahagiaan dengan terkabulnya doa, kinerja yang baik, ketika melihat keindahan, dan pencapaian pengetahuan. Namun, dalam Islam, ukuran kebahagiaan jauh melampaui ruang dan waktu.
Baca Juga: Beriman dan Beramal Saleh, Dua Syarat Utama Raih KebahagiaanMenurut Seyyed Hossein Nashr, apa yang dianggap sebagai kebahagiaan sejati, dan bagaimana kebahagiaan sejati dicapai, sangat dipengaruhi oleh weltanschauung (
world view) dari masing-masing budaya. Termasuk dalam Islam sebagai agama, world view, cara hidup, dan berkebudayaan.
Mengutip Kebahagiaan Dan Pencapaian Kebahagiaan: Perspektif Islam, Selasa (24/1/2023), Seyyed Hossein Nashr menyatakan, bahwa kebahagiaan duniawi bersifat temporer sebagaimana yang dirayakan dalam budaya modern, sekuler, dan hedonistik. Sebaliknya, pengejaran kebahagiaan dalam pemikiran Islam justru berkaitan dengan pencapaian di kehidupan akhir.
Dalam bahasa Arab, frasa "mencapai (
attainment of) kebahagiaan" (tahsil al-sa'ādah), sebenarnya merupakan judul karya terkenal filsuf Islam Abu Nasr al-Färäbi. Sedangkan frasa "mengejar (pursuit of) kebahagiaan" lebih jarang digunakan dan tidak memiliki resonansi yang sama dalam bahasa Arab seperti dalam bahasa Inggris.
Pemikiran Islam, berdasarkan
Al-Qur'an, mengutamakan kebahagiaan sejati sebagai realitas yang abadi dan permanen dan bukan hanya pengalaman sementara. Islam juga menganggap keadaan permanen ini — yang pada dasarnya, surga — dapat dicapai dan bukan hanya tujuan yang harus dikejar.
Baca Juga: Keutamaan 3 Surat Terakhir di Al Quran, Jadi Pelindung dan DoaMenurut pandangan Nasr, manusia adalah refleksi dari semua sifat Tuhan, yang mungkin menjadi perbedaan dengan malaikat yang hanya mencerminkan sebagian dari sifat Tuhan saja. Nasr juga menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebahagiaan dengan memegang teguh iman dan ajaran Islam.
Menurutnya, iman kepada Allah SWT dan wahyu-Nya tidak hanya merupakan anugerah yang tak tertandingi dari-Nya kepada makhluk-Nya, tetapi juga merupakan sumber kebahagiaan. Firman Allah SWT dalam Surat Al Insyirah ayat 1:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Nasr menjelaskan, kelapangan (insyirah) yang dibicarakan Al-Qur'an dalam ayat ini secara langsung berkaitan dengan karunia iman. Pada saat yang sama, menunjuk pada sukacita dan kebahagiaan, yang merupakan ciri-ciri dari kondisi kelapangan hati.
Ketika kita bahagia, kita mengalami, secara psikologis tercermin dalam keberadaan dan kesadaran. Secara fisik, sukacita dan kebahagiaan tercermin di wajah sebagai senyuman atau tawa.
Baca Juga:
Manfaatkan Waktu untuk Menggapai Ridho Allah SWT
Tafsir Al Hajj Ayat 5-7: Dalil-dalil atas Kekuasaan Allah Taala(gar)