Lembaga Dakwah MUI: Ada Standar Ganda dalam Aksi Penistaan Al Quran
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 27 Januari 2023 - 10:01 WIB
Dua politisi sayap kanan Swedia dan Belanda melakukan aksi penistaan Al Quran dengan penjagaan dari pihak kepolisian. Foto: Istimewa.
Anggota Lembaga Dakwah Khusus (LDK) MUI Pusat, Wildan Hasan menyebut ada ambiguitas atau standar ganda demokratisasi yang diterapkan negara Barat dalam kasus pembakaran Al Quran.
Wildan mengatakan, pemerintah Swedia maupun Belanda menolak aksi pembakaran itu dan menyebutnya sebagai tindakan amoral terhadap Al Quran dan kitab suci agama lain.
Baca juga: Soal Penistaan Al Quran, Begini Harusnya Umat Muslim Bersikap
"Tetapi mereka tidak bisa mencegah pelaku melakukan perbuatan demikian karena menghormati hak asasi untuk berekspresi. Nah ini kan sebuah standar ganda. Di satu sisi menolak perbuatan itu di sisi lain mengizinkan perbuatan itu dengan dua alasan yang berbeda," ujar Wildan kepada LANGIT7.ID, dikutip Jumat (27/1/2022).
Menurut dia, ada dualisme yang menunjukkan bahwa Barat tidak pernah mampu untuk menuntaskan pemahaman dan pengalaman kehidupannya ketika mengenyampingkan agama, aspek spiritualitas, religiusitas, moralitas dan kemudian bersandar pada kehidupan yang sekuler.
Namun, jika kondisi dibalik dan penghinaan terjadi pada lambang negara dan simbol-simbol suci negara Barat, maka akan terjadi penolakan keras.
Baca juga: Gus Muhaimin Minta Umat Islam Tak Terprovokasi Kasus Pembakaran Al-Quran
Wildan mengatakan, pemerintah Swedia maupun Belanda menolak aksi pembakaran itu dan menyebutnya sebagai tindakan amoral terhadap Al Quran dan kitab suci agama lain.
Baca juga: Soal Penistaan Al Quran, Begini Harusnya Umat Muslim Bersikap
"Tetapi mereka tidak bisa mencegah pelaku melakukan perbuatan demikian karena menghormati hak asasi untuk berekspresi. Nah ini kan sebuah standar ganda. Di satu sisi menolak perbuatan itu di sisi lain mengizinkan perbuatan itu dengan dua alasan yang berbeda," ujar Wildan kepada LANGIT7.ID, dikutip Jumat (27/1/2022).
Menurut dia, ada dualisme yang menunjukkan bahwa Barat tidak pernah mampu untuk menuntaskan pemahaman dan pengalaman kehidupannya ketika mengenyampingkan agama, aspek spiritualitas, religiusitas, moralitas dan kemudian bersandar pada kehidupan yang sekuler.
Namun, jika kondisi dibalik dan penghinaan terjadi pada lambang negara dan simbol-simbol suci negara Barat, maka akan terjadi penolakan keras.
Baca juga: Gus Muhaimin Minta Umat Islam Tak Terprovokasi Kasus Pembakaran Al-Quran