4 Penyebab Anak Jadi Generasi Stroberi, Pola Asuh Jadi Penting
Muhajirin
Rabu, 01 Februari 2023 - 20:00 WIB
Ilustrasi kesehatan mental pada anak (foto: langit7.id/istock)
Generasi Stroberi pertama kali dikenal di Taiwan pada tahun 80-an. Tapi, istilah itu baru marak di Indonesia pada 2022 lalu dan menjadi perhatian banyak psikolog.
Generasi stroberi. identik dengan anak muda yang memiliki kreativitas dan ide cerdas, tapi mudah rapuh secara mental. Menurut psikolog Yirawati Sumedi, salah satu penyebab anak menjadi generasi stroberiadalah terlalu dimanja sejak dini. Semua fasilitas diberikan meski sebenarnya tidak mereka butuhkan.
“Jadi, semuanya memang pada pola asuh. Makanya perlu ada kurikulum kesengsaraan, kita memberikan kurikulum kesengsaraan agar anak-anak lebih Tangguh,” ujar Ira dalam webinar Fenomena Generasistroberi yang diikuti Langit7.id, Selasa (31/1/2023).
Baca Juga:Mengenal Generasi Stroberi, Kreativitas Tinggi tapi Mental Lembek
“Kurikulum itu bukan berarti membuat anak-anak menderita, bukan membuat anak-anak kayak disuruh apa-apa harus bekerja,” imbuh Ira.
Ira menjelaskan, ada empat penyebab anak bisa menjadi generasi stroberi, yaitu self diagnosis terlalu dini tanpa melibatkan pihak yang ahli, cara orang tua mendidik, narasi-narasi orang tua yang kurang berpengetahuan, kondisi mental psikologis dan persepsi tentang diri.Self diagnosis banyak dilakukan oleh anak-anak, bahkan orang dewasa. Marak terdengar dari anak muda yang gampang mengucapkan ‘butuh healing’ ataupun ‘sakit mental’ dan lain sebagainya.
Padahal, kata dia, healing merupakan rangkaian penyembuhan psikologis bagi orang yang pernah mengalami gangguan jiwa, mengalami masalah yang diakibatkan trauma, hingga luka batin serius.
Generasi stroberi. identik dengan anak muda yang memiliki kreativitas dan ide cerdas, tapi mudah rapuh secara mental. Menurut psikolog Yirawati Sumedi, salah satu penyebab anak menjadi generasi stroberiadalah terlalu dimanja sejak dini. Semua fasilitas diberikan meski sebenarnya tidak mereka butuhkan.
“Jadi, semuanya memang pada pola asuh. Makanya perlu ada kurikulum kesengsaraan, kita memberikan kurikulum kesengsaraan agar anak-anak lebih Tangguh,” ujar Ira dalam webinar Fenomena Generasistroberi yang diikuti Langit7.id, Selasa (31/1/2023).
Baca Juga:Mengenal Generasi Stroberi, Kreativitas Tinggi tapi Mental Lembek
“Kurikulum itu bukan berarti membuat anak-anak menderita, bukan membuat anak-anak kayak disuruh apa-apa harus bekerja,” imbuh Ira.
Ira menjelaskan, ada empat penyebab anak bisa menjadi generasi stroberi, yaitu self diagnosis terlalu dini tanpa melibatkan pihak yang ahli, cara orang tua mendidik, narasi-narasi orang tua yang kurang berpengetahuan, kondisi mental psikologis dan persepsi tentang diri.Self diagnosis banyak dilakukan oleh anak-anak, bahkan orang dewasa. Marak terdengar dari anak muda yang gampang mengucapkan ‘butuh healing’ ataupun ‘sakit mental’ dan lain sebagainya.
Padahal, kata dia, healing merupakan rangkaian penyembuhan psikologis bagi orang yang pernah mengalami gangguan jiwa, mengalami masalah yang diakibatkan trauma, hingga luka batin serius.