Childfree Produk Feminisme, Konsep Gagal Gambarkan Keluarga Ideal
Muhajirin
Rabu, 25 Agustus 2021 - 19:30 WIB
Ilustrasi pasangan tanpa anak (foto: langit7.id/istock)
Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmi Zarkasyi, menjelaskan, wacana childfree yang marak akhir-akhir ini merupakan produk feminisme. Di sejumlah negara barat, fenomena perempuan tidak mau punya anak sudah menjadi hal biasa.
Kaum feminis punya prinsip kedaulatan alat reproduksi. Artinya, perempuan itu sendiri yang berhak memutuskan ingin punya anak atau tidak, bukan suami atau pun keluarga.
Dalam sistem keluarga seperti itu, suami dan istri punya kedudukan istri. Tidak ada konsep istri taat kepada suami. Menurut Prof Hamid hal itu bagian dari kegagalan feminisme atau masyarakat barat secara umum dalam menggambarkan konsep keluarga yang ideal.
“Childfree adalah pemikiran orang feminis yang tidak mau sibuk dengan anak. Bahkan ada rumah orang feminis itu tidak ada dapurnya, supaya apa? supaya tidak ada orang yang bekerja di dapur sebagai budak salah satu. Kan yang dibenci oleh mereka itu adalah stigmatisasi dapur, sumur, dan kasur,” kata Prof Hamid, dikutip dari akun instagram @demapascasarjanaunida, dikutip Rabu (25/8/2021).
Sebenarnya Islam menempatkan persoalan menikah dengan adil. Misalnya, perintah nabi diberikan kepada pemuda yang sudah mampu. Jika tidak mampu, maka diperintahkan berpuasa. Kehidupan rumah tangga juga memiliki konsep yang sangat adil dalam Islam.
Menurut Prof Hamid, setiap pekerjaan dalam rumah bernilai ibadah. Ketika suami keluar mencari nafkah, maka itu bernilai ibadah. Sama halnya pekerjaan rumah tangga akan bernilai ibadah bagi istri. “Anda di dapur adalah ibadah, sumur mencuci itu juga ibadah,” ucap Prof. Hamid.
Dalam Islam, anak shalih menjadi investasi akhirat bagi orang tua. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa anak shalih adalah amal jariyah bagi orang tua. Tentu keutamaan ini tidak didapatkan oleh orang yang memiliki childfree.
Kaum feminis punya prinsip kedaulatan alat reproduksi. Artinya, perempuan itu sendiri yang berhak memutuskan ingin punya anak atau tidak, bukan suami atau pun keluarga.
Dalam sistem keluarga seperti itu, suami dan istri punya kedudukan istri. Tidak ada konsep istri taat kepada suami. Menurut Prof Hamid hal itu bagian dari kegagalan feminisme atau masyarakat barat secara umum dalam menggambarkan konsep keluarga yang ideal.
“Childfree adalah pemikiran orang feminis yang tidak mau sibuk dengan anak. Bahkan ada rumah orang feminis itu tidak ada dapurnya, supaya apa? supaya tidak ada orang yang bekerja di dapur sebagai budak salah satu. Kan yang dibenci oleh mereka itu adalah stigmatisasi dapur, sumur, dan kasur,” kata Prof Hamid, dikutip dari akun instagram @demapascasarjanaunida, dikutip Rabu (25/8/2021).
Sebenarnya Islam menempatkan persoalan menikah dengan adil. Misalnya, perintah nabi diberikan kepada pemuda yang sudah mampu. Jika tidak mampu, maka diperintahkan berpuasa. Kehidupan rumah tangga juga memiliki konsep yang sangat adil dalam Islam.
Menurut Prof Hamid, setiap pekerjaan dalam rumah bernilai ibadah. Ketika suami keluar mencari nafkah, maka itu bernilai ibadah. Sama halnya pekerjaan rumah tangga akan bernilai ibadah bagi istri. “Anda di dapur adalah ibadah, sumur mencuci itu juga ibadah,” ucap Prof. Hamid.
Dalam Islam, anak shalih menjadi investasi akhirat bagi orang tua. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa anak shalih adalah amal jariyah bagi orang tua. Tentu keutamaan ini tidak didapatkan oleh orang yang memiliki childfree.