Didik Rachbini: Investasi Tak Produktif, Industri Tak Tumbuh
Muhajirin
Jum'at, 10 Februari 2023 - 12:15 WIB
Ilustrasi Investasi (Foto: Pixabay)
Ekonom Senior INDEF, Prof Didik J Rachbini, menilai investasi tidak produktif tidak akan menumbuhkan industri. Investasi luar negeri memang masuk ke Indonesia, tetapi tidak berhubungan dengan pertumbuhan industri.
“Investasi masuk banyak, namun pertumbuhan industri tidak kunjung meningkat. Terlihat dari grafik yang ada tidak ada korelasi signifikan. Hal itu menandakan tidak adanyakebijakan yang dibangun bagi perbaikan industri nasional,” kata Didik dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2023).
Menurut dia, pemerintah bisa mencontoh best practice pada 1988. Mulai dari Pakto 1988 dan serangkaian deregulasi dan debirokratisasi menghasilkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menyentuh angka 7 persen.
Baca Juga:Putra Mahkota Arab Saudi Luncurkan EIF, Dorong Kemajuan Industri Lokal
Hal itu dilakukan dengan kebijakan reformasi struktural dengan dampak pada industri yang tumbuh tinggi, investasi masuk signifikan dan ekspor yang kuat. Setelah krisis krisis 1998, rata-rata pertumbuhan ekonomi menurun tetapi masih masih bisa 6 persen.
“Sekarang pertumbuhan ekonomi semakin berat untuk bisa mencapai pertumbuhan 6-7 persen, sudah hampir satu dekade kita hanya tumbuh 5 persen ,” ujar Didik.
“Investasi masuk banyak, namun pertumbuhan industri tidak kunjung meningkat. Terlihat dari grafik yang ada tidak ada korelasi signifikan. Hal itu menandakan tidak adanyakebijakan yang dibangun bagi perbaikan industri nasional,” kata Didik dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2023).
Menurut dia, pemerintah bisa mencontoh best practice pada 1988. Mulai dari Pakto 1988 dan serangkaian deregulasi dan debirokratisasi menghasilkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menyentuh angka 7 persen.
Baca Juga:Putra Mahkota Arab Saudi Luncurkan EIF, Dorong Kemajuan Industri Lokal
Hal itu dilakukan dengan kebijakan reformasi struktural dengan dampak pada industri yang tumbuh tinggi, investasi masuk signifikan dan ekspor yang kuat. Setelah krisis krisis 1998, rata-rata pertumbuhan ekonomi menurun tetapi masih masih bisa 6 persen.
“Sekarang pertumbuhan ekonomi semakin berat untuk bisa mencapai pertumbuhan 6-7 persen, sudah hampir satu dekade kita hanya tumbuh 5 persen ,” ujar Didik.