Pejabat Pajak Gemar Flexing, Psikolog: Tunjukkan Harga Diri Lemah
Muhajirin
Jum'at, 03 Maret 2023 - 08:00 WIB
Komunitas BlastingRider DJP, tempat pejabat pajak dengan motor mewah (foto: istimewa)
Pengamat Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM), Lu’luatul Chizanah, mengungkap alasan banyak orang kaya berperilakuflexing. Itu mengambil contoh kasus dari Mario Dandy Satrio, anak pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo, yang kerap memamerkan barang mewah di media sosial.
Menurut dia, perilaku flexing mengindikasikan self esteem atau harga diri yang lemah. Tanpa disadari orang yang kerap melakukan flexing sebenarnya tidak punya kepercayaan terhadap nilai dirinya. Flexing dilakukan untuk menutupi kekurangan harga diri dengan membuat orang lain terkesan.
“Dengan memposting sesuatu yang dinilai berharga bagi kebanyakan orang dan di-like ini seperti divalidasi, merasa hebat dan berharga karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,” kata Lu’luatul Chizanah melalui laman resmi UGM, Kamis (2/3/2023).
Baca Juga: Gaya Hidup Mewah Pejabat Jadi Faktor Ketimpangan Ekonomi
Selain itu, tindakan flexing sengaja dilakukan untuk menunjukkan kepemilikan material maupun properti yang dianggap bernilai bagi kebanyakan orang. Perilaku flexing itu makin dipermudah dengan adanya media sosial.
“Flexing menjadi fenomena yang mencuat seiring dengan perkembangan media sosial. Kehadiran media sosial memberi kesempatan bagi orang-orang untuk lebih menunjukkan diri atas kepemilikan material atau properti yang dianggap memiliki nilai bagi kebanyakan orang,” ujar Lu’luatul Chizanah.
Menurut dia, perilaku flexing mengindikasikan self esteem atau harga diri yang lemah. Tanpa disadari orang yang kerap melakukan flexing sebenarnya tidak punya kepercayaan terhadap nilai dirinya. Flexing dilakukan untuk menutupi kekurangan harga diri dengan membuat orang lain terkesan.
“Dengan memposting sesuatu yang dinilai berharga bagi kebanyakan orang dan di-like ini seperti divalidasi, merasa hebat dan berharga karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,” kata Lu’luatul Chizanah melalui laman resmi UGM, Kamis (2/3/2023).
Baca Juga: Gaya Hidup Mewah Pejabat Jadi Faktor Ketimpangan Ekonomi
Selain itu, tindakan flexing sengaja dilakukan untuk menunjukkan kepemilikan material maupun properti yang dianggap bernilai bagi kebanyakan orang. Perilaku flexing itu makin dipermudah dengan adanya media sosial.
“Flexing menjadi fenomena yang mencuat seiring dengan perkembangan media sosial. Kehadiran media sosial memberi kesempatan bagi orang-orang untuk lebih menunjukkan diri atas kepemilikan material atau properti yang dianggap memiliki nilai bagi kebanyakan orang,” ujar Lu’luatul Chizanah.