LANGIT7.ID, Jakarta - Pengamat Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM), Lu’luatul Chizanah, mengungkap alasan banyak orang kaya berperilaku
flexing. Itu mengambil contoh kasus dari Mario Dandy Satrio, anak pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo, yang kerap memamerkan barang mewah di media sosial.
Menurut dia, perilaku
flexing mengindikasikan
self esteem atau harga diri yang lemah. Tanpa disadari orang yang kerap melakukan
flexing sebenarnya tidak punya kepercayaan terhadap nilai dirinya.
Flexing dilakukan untuk menutupi kekurangan harga diri dengan membuat orang lain terkesan.
“Dengan memposting sesuatu yang dinilai berharga bagi kebanyakan orang dan di-
like ini seperti divalidasi, merasa hebat dan berharga karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,” kata Lu’luatul Chizanah melalui laman resmi UGM, Kamis (2/3/2023).
Baca Juga: Gaya Hidup Mewah Pejabat Jadi Faktor Ketimpangan Ekonomi
Selain itu, tindakan
flexing sengaja dilakukan untuk menunjukkan kepemilikan material maupun properti yang dianggap bernilai bagi kebanyakan orang. Perilaku
flexing itu makin dipermudah dengan adanya media sosial.
“
Flexing menjadi fenomena yang mencuat seiring dengan perkembangan media sosial. Kehadiran media sosial memberi kesempatan bagi orang-orang untuk lebih menunjukkan diri atas kepemilikan material atau properti yang dianggap memiliki nilai bagi kebanyakan orang,” ujar Lu’luatul Chizanah.
Salah tujuan pelaku
flexing di media sosial adalah untuk mendapatkan pengakuan dalam kelompok. Dalam konteks pembentukan relasi atau pertemanan, membutuhkan pengakuan agar bisa diterima di lingkungan tertentu.
Baca Juga: 5 Sahabat Rasulullah yang Kaya Raya tapi Tak Suka Flexing
“Teknik manajemen impresi dengan memamerkan barang-barang mewah dilakukan untuk membuktikan jika ia layak masuk dalam komunitas tertentu. Harapannya dengan memamerkan tas branded, maka orang lain akan menilai saya layak masuk kalangan elite,” ujar Lu’luatul Chizanah.
Dampak Perilaku Flexing
Lu’luatul Chizanah menyampaikan, perilaku
flexing bisa menimbulkan pandangan yang tidak tepat di tengah masyarakat terkait kepemilikan material. Itu karena unggahan pelaku
flexing bisa dipercayai oleh pengguna media sosial akan pentingnya kepemilikan material.
“Bisa terbentuk pandangan, akan dihargai kalau punya sesuatu. Ini akan jadi pemahaman yang berbahaya sementara aspek lainnya akan diabaikan,” ujar Lu’luatul Chizanah.
Perilaku
flexing juga akan berdampak buruk ke arah
impulsive buying. Seseorang akan menjadi sangat impulsif untuk membeli barang-barang
branded hanya untuk
flexing. Bila flexing ditujukan untuk mengatasi
self esteem rendah, maka hal itu hanya bersifat semu dan tidak berujung serta bersifat adiktif.
Flexing justru menghalangi seseorang untuk mengatasi
self esteem secara efektif.
Baca Juga: Anwar Abbas Minta Penegak Hukum Proaktif Selidiki Kejanggalan Harta Pejabat
“Kalau
flexing dilakukan sebagai awal pemantik perhatian dan selanjutnya menunjukkan sesuatu yang lebih esensial seperti kompetensi, personaliti yang baik itu tidak masalah. Akan ada masalah jika flexing ini jadi satu-satunya cara untuk manajemen impresi, jadi toksik bagi diri sendiri,” ujar Lu’luatul Chizanah.
Cara Mencegah Perilaku Flexing
Lu’luatul Chizanah menjelaskan salah satu cara mencegah perilaku
flexing. Tindakan tidak mengkomparasikan diri dengan orang lain yang berada di atas dirinya bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah tindakan
flexing.
“Coba untuk melihat ke bawah, jangan ke atas terus karena aka nada dorongan untuk
flexing jika melihat ke atas. Kalau melihat ke bawah justru akan muncul rasa syukur,” ucap Lu’luatul Chizanah.
Lu’luatul Chizanah mengatakan, setiap orang memiliki potensi untuk menunjukkan perilaku flexing. Kemampuan mengelola diri untuk melakukan
flexing atau tidak menjadi sangat penting. “
Flexing untuk menunjukkan pencapaian, sesekali tidak apa. Namun, saat kalau tidak posting menjadi cemas ini harus jadi alarm diri,” ucapnya.
(jqf)