Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home lifestyle muslim detail berita

Pejabat Pajak Gemar Flexing, Psikolog: Tunjukkan Harga Diri Lemah

Muhajirin Jum'at, 03 Maret 2023 - 08:00 WIB
Pejabat Pajak Gemar Flexing, Psikolog: Tunjukkan Harga Diri Lemah
Komunitas BlastingRider DJP, tempat pejabat pajak dengan motor mewah (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pengamat Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM), Lu’luatul Chizanah, mengungkap alasan banyak orang kaya berperilaku flexing. Itu mengambil contoh kasus dari Mario Dandy Satrio, anak pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo, yang kerap memamerkan barang mewah di media sosial.

Menurut dia, perilaku flexing mengindikasikan self esteem atau harga diri yang lemah. Tanpa disadari orang yang kerap melakukan flexing sebenarnya tidak punya kepercayaan terhadap nilai dirinya. Flexing dilakukan untuk menutupi kekurangan harga diri dengan membuat orang lain terkesan.

“Dengan memposting sesuatu yang dinilai berharga bagi kebanyakan orang dan di-like ini seperti divalidasi, merasa hebat dan berharga karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,” kata Lu’luatul Chizanah melalui laman resmi UGM, Kamis (2/3/2023).

Baca Juga: Gaya Hidup Mewah Pejabat Jadi Faktor Ketimpangan Ekonomi

Selain itu, tindakan flexing sengaja dilakukan untuk menunjukkan kepemilikan material maupun properti yang dianggap bernilai bagi kebanyakan orang. Perilaku flexing itu makin dipermudah dengan adanya media sosial.
Flexing menjadi fenomena yang mencuat seiring dengan perkembangan media sosial. Kehadiran media sosial memberi kesempatan bagi orang-orang untuk lebih menunjukkan diri atas kepemilikan material atau properti yang dianggap memiliki nilai bagi kebanyakan orang,” ujar Lu’luatul Chizanah.

Salah tujuan pelaku flexing di media sosial adalah untuk mendapatkan pengakuan dalam kelompok. Dalam konteks pembentukan relasi atau pertemanan, membutuhkan pengakuan agar bisa diterima di lingkungan tertentu.

Baca Juga: 5 Sahabat Rasulullah yang Kaya Raya tapi Tak Suka Flexing

“Teknik manajemen impresi dengan memamerkan barang-barang mewah dilakukan untuk membuktikan jika ia layak masuk dalam komunitas tertentu. Harapannya dengan memamerkan tas branded, maka orang lain akan menilai saya layak masuk kalangan elite,” ujar Lu’luatul Chizanah.

Dampak Perilaku Flexing

Lu’luatul Chizanah menyampaikan, perilaku flexing bisa menimbulkan pandangan yang tidak tepat di tengah masyarakat terkait kepemilikan material. Itu karena unggahan pelaku flexing bisa dipercayai oleh pengguna media sosial akan pentingnya kepemilikan material.

“Bisa terbentuk pandangan, akan dihargai kalau punya sesuatu. Ini akan jadi pemahaman yang berbahaya sementara aspek lainnya akan diabaikan,” ujar Lu’luatul Chizanah.

Perilaku flexing juga akan berdampak buruk ke arah impulsive buying. Seseorang akan menjadi sangat impulsif untuk membeli barang-barang branded hanya untuk flexing. Bila flexing ditujukan untuk mengatasi self esteem rendah, maka hal itu hanya bersifat semu dan tidak berujung serta bersifat adiktif. Flexing justru menghalangi seseorang untuk mengatasi self esteem secara efektif.

Baca Juga: Anwar Abbas Minta Penegak Hukum Proaktif Selidiki Kejanggalan Harta Pejabat

“Kalau flexing dilakukan sebagai awal pemantik perhatian dan selanjutnya menunjukkan sesuatu yang lebih esensial seperti kompetensi, personaliti yang baik itu tidak masalah. Akan ada masalah jika flexing ini jadi satu-satunya cara untuk manajemen impresi, jadi toksik bagi diri sendiri,” ujar Lu’luatul Chizanah.

Cara Mencegah Perilaku Flexing

Lu’luatul Chizanah menjelaskan salah satu cara mencegah perilaku flexing. Tindakan tidak mengkomparasikan diri dengan orang lain yang berada di atas dirinya bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah tindakan flexing.

“Coba untuk melihat ke bawah, jangan ke atas terus karena aka nada dorongan untuk flexing jika melihat ke atas. Kalau melihat ke bawah justru akan muncul rasa syukur,” ucap Lu’luatul Chizanah.

Lu’luatul Chizanah mengatakan, setiap orang memiliki potensi untuk menunjukkan perilaku flexing. Kemampuan mengelola diri untuk melakukan flexing atau tidak menjadi sangat penting. “Flexing untuk menunjukkan pencapaian, sesekali tidak apa. Namun, saat kalau tidak posting menjadi cemas ini harus jadi alarm diri,” ucapnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)