Muhammadiyah Bikin Pondok Jadi Universitas, NU Bikin Universitas Jadi Pondok
Muhajirin
Selasa, 07 Maret 2023 - 09:39 WIB
Kampus besutan Muhammadiyah (Foto: Istimewa)
Ketua PWM Jawa Tengah, Tafsir, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sama-sama memiliki kegagalan. Muhammadiyah sering gagal saat ingin mendirikan pondok pesantren. Sementara, NU sering gagal saat hendak mendirikan universitas.
“Hal ini menjadi kesadaran bersama antara NU dengan Muhammadiyah, sehingga NU menghasilkan intelektual, Muhammadiyah menghasilkan ulama. NU berbondong-bondong membangun universitas, Muhammadiyah berbondong-bondong membangun pondok pesantren,” kata Tafsir, dikutip laman Muhammadiyah, Selasa (7/3/2023).
Tafsir menjelaskan, jika Muhammadiyah mendirikan pesantren seringkali gagal, sementara NU yang bercita-cita mendirikan universitas malah seringkali menjadi pondok pesantren.
Baca Juga:Tradisi Keilmuan dalam Persahabatan Pendiri Muhammadiyah dan NU
“Nampaknya keduanya masih bareng, NU mendirikan universitas ujung-ujungnya menjadi pondok. Muhammadiyah mendirikan pondok ujung-ujungnya jadi kos-kosan, kenapa jadi kos-kosan? Karena tidak ada pengasuh pesantrennya,” kata Tafsir.
Oleh karena itu, Tafsir mendorong pengurus PWM Jateng periode 2022-2027 untuk memproduksi semakin banyak pengasuh pondok pesantren yang alim dan tafaqquh fiddin. Pengasuh pesantren yang memiliki kemampuan ilmu alat yang memadai.
Tafsir meminta pengelola pondok pesantren Muhammadiyah agar tidak menjadikan semua pesantren sebagai rumah tahfidz. Pondok pesantren Muhammadiyah harus ada yang menjadi rumah ilmu alat nahwu-sharaf.
“Hal ini menjadi kesadaran bersama antara NU dengan Muhammadiyah, sehingga NU menghasilkan intelektual, Muhammadiyah menghasilkan ulama. NU berbondong-bondong membangun universitas, Muhammadiyah berbondong-bondong membangun pondok pesantren,” kata Tafsir, dikutip laman Muhammadiyah, Selasa (7/3/2023).
Tafsir menjelaskan, jika Muhammadiyah mendirikan pesantren seringkali gagal, sementara NU yang bercita-cita mendirikan universitas malah seringkali menjadi pondok pesantren.
Baca Juga:Tradisi Keilmuan dalam Persahabatan Pendiri Muhammadiyah dan NU
“Nampaknya keduanya masih bareng, NU mendirikan universitas ujung-ujungnya menjadi pondok. Muhammadiyah mendirikan pondok ujung-ujungnya jadi kos-kosan, kenapa jadi kos-kosan? Karena tidak ada pengasuh pesantrennya,” kata Tafsir.
Oleh karena itu, Tafsir mendorong pengurus PWM Jateng periode 2022-2027 untuk memproduksi semakin banyak pengasuh pondok pesantren yang alim dan tafaqquh fiddin. Pengasuh pesantren yang memiliki kemampuan ilmu alat yang memadai.
Tafsir meminta pengelola pondok pesantren Muhammadiyah agar tidak menjadikan semua pesantren sebagai rumah tahfidz. Pondok pesantren Muhammadiyah harus ada yang menjadi rumah ilmu alat nahwu-sharaf.