home edukasi & pesantren

Geliat Permainan Tradisional Hadapi Gempuran Game Online

Kamis, 08 Juli 2021 - 20:15 WIB
Anak-anak sedang bermain Cublek Suweng. Foto: Kampoeng Dolanan
Menurut para psikolog, bermain itu jamak menjadi kebutuhan bagi anak. Persoalannya, di era digital ini kebutuhan anak banyak terpaku pada gadget dan game online. Data dari Klinik Adiksi Perilaku Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), pada tahun 2018 jumlah anak dan remaja yang sampai pada level adiksi atau kecanduan game online di DKI Jakarta sebanyak 14 persen.

Di tengah gempuran game online terhadap anak, Mustofa Sam bersama komunitasnya tak henti menggiatkan sosialisasi dan edukasi permainan tradisional kepada anak dan remaja. Menurutnya permainan tradisional bisa menjadi sarana hiburan yang lebih edukatif dan bermanfaat.

"Sangat bisa (menggantikan game online), bahkan bukan hanya jadi alternatif. Opsi alternatif muncul sebab maraknya gadget," kata pria yang akrab disapa Cak Mus kepada LANGIT7.ID , Rabu (7/7/2021).

Menurutnya, dalam memilih permainan anak adalah objek yang belum punya kedewasaan dalam memilih. Sehingga merupakan peran orang tua dalam memilihkan opsi hiburan bagi anak.

"Ingat anak-anak tidak punya kesempatan memilih jenis permainan tapi orang tua hanya memberi kesempatan untuk dikenalkan permainan digital (gadget) saja," kata Mustofa.

Berdasarkan pengalamannya mensosialisasikan permainan tradisional, 99 persen anak tertarik dengan permainan tradisional. Sementara sisanya tertarik dengan gadget karena sejak awal sudah dibiasakan dan diizinkan berlama-lama oleh orang tuanya untuk bermain gadget.

Menurut pengalaman Mustofa dan komunitasnya, permainan tradisional bisa memberikan dampak lebih positif kepada anak dibandingkan game online. Ada interaksi sosial yang hilang ketika seorang anak hanya terpaku pada game online.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
permainan tradisional kecanduan gadget pendidikan anak
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya