home edukasi & pesantren

Seni Islam: Sejarah, Ketuhanan dan Refleksi Sosial

Kamis, 30 Maret 2023 - 08:54 WIB
Bambang Asrini, kurator seni dan pemerhati isu sosial dan budaya
Islam tak dipungkiri memiliki khasanah budaya yang kaya dan agung, tak hanya yang tertera di Kitabullah. Dari masa ke masa masyarakat Muslim sedunia pun di Indonesia memuja keindahan transenden dalam tradisi seni Islam. Sebab karya seni merupakan wakil ‘alam al misal (alam misal), dan alam misal berfungsi menjadi barzakh (perantara) atas ‘al-nasut (alam kemanusiaan) dengan ‘alam al-lahut, yakni semesta ketuhanan.

Tak pelak, seni adalah hasil kreativitas manusia yang memesona inderawi kita. Yang kemudian, mendekatkan diri kita pada dzat-Nya. Bagi cendekiawan Islam, Abu Hammed Al Ghazzali, seni itu semata-mata memperkaya kedekatan kita pada sang Khaliq.

Sementara itu seni Islam bermanifestasi dalam seni rupa terelasi dengan jenis kaligrafi (khat) dan seni hias tetumbuhan. Pada abad ke-16 sampai abad 20, peradaban Eropa juga terinspirasi Islam, terutama pengaruh pelukis seperti Rembrandt (abad 16/17), Delacroix (abad 18/19), sampai Matisse dan Paul Klee serta Wasilly Kandinsky (abad 20). Mereka ini, para seniman kanon utama Eropa yang berhutang utamanya seni pada miniatur Islam, yang mengekspos gaya figuratif, geometri, maupun bentuk-bentuk esensial secara abstraktif arsitektural, distorsi tubuh manusia dan alam yang bersentuhan pula dengan seni Islam di China, Tibet maupun India.

AjaranTassawuflah yang memazmurkan khasanah seni Islam modern yang setara dengan peradaban Barat lainnya berabad-abad kemudian. Kita mengingat, bagaimana sastrawan, cendekiawan juga politisi kampiun Jerman, Johann Wolgang von Goethe sangat memuja Nabi Muhammad SAW di abad ke-19 dengan kitab puisi West-östlicher Diwan yang diinspirasi dari sastrawan Hafiz dari Persia.

Seni Islam Tanah Air

Syiar Islam di Jawa pada abad ke-15 sangat bergelora, yang menakjubkan adalah gejala kegiatan pertukangan, kerajinan, serta penciptaan seni-seni Islam di bandar-pelabuhan utama, juga pusat-pusat pendidikan. Walisongo adalah penghulu para seniman Jawa. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga adalah local genius pada lapangan kebudayaan. Mereka yang menemukan inovasi-inovasi dalam seni bernafaskan Islam, yang sangat khas Islam Jawa. Gamelan Jawa yang menjadi kontemplatif dan pencak silat juga digubah baru dan dikembangkan menurut asas-asas estetika sufistik.

Sejarah juga mengajarkan pada kita, seni rupa Islam dengan batik. Sebagai misal bahwa batik Mega Mendung dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati berdarah Tionghoa bernama Putri Oeng Tien. Motif batik Mega Mendung memiliki arti yang unik bagi setiap penggunanya. Mega merupakan frasa dari awan yang megah dan besar sehingga penggunanya bisa terlihat berwibawa, sedangkan untuk Mendung sendiri memiliki arti tenang dan meneduhkan. Sebagai perbandingan, diluar Jawa, artefak mahkota atau Regalia, yang dalam bahasa Kalimantan Timur adalah Ketopong. Komposisi mahkotanya sangat terpengaruh oleh bentuk-bentuk mahkota Kerajaan Hindu pada masa Kutai kuno (Kutai Martadipura di Muara Kaman). Mahkota yang dikenakan oleh Sultan Muhammad Sulaiman (1845-1899) pada seremoni penganugerahan sebagai raja, adalah bukti kemampuan seni tinggi klasik pengolahan emas abad-abad itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
seni budaya islam bambang asrini
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya